Jumat , 12 Januari 2018, 17:00 WIB

Sejarah Islam di Cape Town

Red: Agung Sasongko
Blogspot.com
Menara Masjid Al-Awal (Owal), masjid pertama di Cape Town, Afrika Selatan.
Menara Masjid Al-Awal (Owal), masjid pertama di Cape Town, Afrika Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarah Islam di Cape Town sangat menarik untuk disimak. Peninggalannya da pat dilihat dari beberapa makam atau karamat dan masjid yang ada di sana.

Cape Town berada di sisi selatan Provinsi Western Cape, Afrika Selatan. Islam pertama kali masuk di kota ini pada pertengahan 1600-1700-an melalui para politikus maupun ulama yang dibuang oleh Belanda dari Indonesia dan Malaysia. Tak heran jika tempat ini juga dikenal sebagai Cape Malay.

Walau umat Islam di Afrika Selatan hanya 1,5 persen dari seluruh po pulasi, tapi Islam telah memberikan warna tersendiri bagi negeri ini. Di Cape Town, komunitas Islam banyak tinggal di daerah Bokaap dan Kampung Makassar. Di tempat ini terdapat beberapa makam penting para ulama penyebar agama Islam yang disebut karamat. Dan, ada sekitar 23 karamat di sekeliling Cape Town. Satu di antaranya yang sangat terkenal adalah makam Syekh Yusuf, seorang ulama besar, keponakan Raja Gowa yang di buang Belanda dan mendirikan Kampung Makassar. Ajaran yang disam p aikan Syekh Yusuf bahkan diakui oleh Nelson Mandela, sekaligus meng inspirasinya untuk membebaskan Afrika Selatan dari apartheid.

Sebuah karya tulis bertajuk “Islamic History and Civilisation in South Africa: The Impact of Colonialism, Apartheid, and Democracy” yang dilansir di laman www.awqafsa.org.za juga menyebutkan soal peran Syekh Yusuf dari Makassar atau Abidin Tadia Tjoessop yang datang pada 1694 sebagai tahanan politik. Ia bersama keluarganya tinggal di sebuah lahan pertanian di Zandvliet, sekitar 50 kilometer dari Cape Town. Di sinilah, Syekh Yusuf pertama kali memba ngun sebuah komunitas Muslim. Dalam perkembangannya, ada 12 imam dalam komunitas ini.

Kemudian, pada 1697, datang Raja Tambora dari Jawa yang tiba di kota ini dalam kondisi dibelenggu rantai. Raja Tambora adalah orang pertama yang menulis Alquran di Cape Town. Alquran ini kemudian diberikan sebagai hadiah kepada Gubernur Cape, Simon van der Stel.

Sedangkan, tahanan negara dari Malaysia, Tuan Guru Imam Abdullah Kadi Abdus Salaam, yang datang pada 6 April 1780 menjadi Muslim pertama yang mendorong pembangunan masjid pertama di Cape Town. Hal ini karena sejak pertama kali kedatangan Muslim di kota ini belum ada satu masjid pun yang didirikan.

Setelah dibebaskan dari Pulau Robben, tak jauh dari Cape Town, pa da tahun 1793, Imam Abdullah membuat petisi pertamanya untuk pem bangunan masjid. Saat itu, petisi tersebut sempat mendapat penolakan meski akhirnya memperoleh izin dari Pemerintah Hindia Belanda untuk men dirikan masjid.

Ia pun menulis sebuah buku tentang yurisprudensi Islam pada 1781 dalam bahasa Melayu dan Arab. Judul buku itu adalah Ma’rifa al-Islam wa al-Iman. Buku ini memberi pengaruh sosial dan keagamaan yang besar di kalangan komunitas Muslim di Cape Town.

Pada 1793, Imam Abdullah membangun sekolah Muslim pertama. Lo kasi nya di Dorp Street, Bokaap, yang akhirnya menjadi bagian dari Masjid Al-Awwal, masjid pertama di Cape Town. Pada 1825, sekolah ini memiliki 491 siswa, sebagian besar dari kalang an budak negro. Di kemudian hari, sekolah inilah yang melahirkan orang-orang Afrika Arab yang memahami bahasa Arab. Setelah Imam Abdullah wafat, kepemimpinan sekolah ini dilanjutkan oleh Imam Achmat van Bengalen.

Disarikan dari Mozaik Republika