Kamis , 11 January 2018, 19:45 WIB

Kontribusi Muslim dalam Pembuatan Peta

Rep: c15/ Red: Agung Sasongko
ucalgary.co
Peta penyebaran Islam di Asia Tenggara.
Peta penyebaran Islam di Asia Tenggara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam mendorong umatnya untuk membuka pikiran dan cakrawala. Allah SWT berfirman, “Sungguh telah berlaku sunah Allah (hukum Allah), maka berjalanlah kamu ke segenap penjuru bumi dan lihatlah bagaimana akibat (perbuatan) orang-orang yang mendustakan ayatayat- Nya.’’ (QS Ali Imran: 137).

Firman Allah ini telah melecut semangat umat Islam pada abad-abad pertama untuk melakukan ekspansi serta ekspedisi. Selain dilandasi faktor ideologi dan politik, ekspansi umat Islam didorong pula oleh insentif perdagangan yang menguntungkan.

Sejak abad ke-8 M, kawasan Mediterania telah menjadi jalur utama Muslim. Jalur-jalur laut dan darat yang sangat sering digunakan pada masa itu akhirnya menghubungkan seluruh wilayah Muslim yang berkembang hingga India, Asia Tenggara, dan Cina, lalu meluas ke utara dari Sungai Volga hingga Skandinavia dan menjangkau jauh ke pedalaman Afrika.

Ekspansi dan ekspedisi pada abad-abad itu mendorong para cendekiawan dan penjelajah Muslim untuk mengembangkan geografi atau ilmu bumi. Perkembangan geografi yang ditandai dengan ditemukannya peta dunia serta jalur-jalur perjalanan di dunia Muslim itu ditopang sejumlah faktor pendukung.

Perkembangan astronomi Islam, penerjemahan nas kah-naskah kuno ke dalam bahasa Arab, dan mening katnya ekspansi perdagangan serta kewajiban menu naikan ibadah haji merupakan sejumlah faktor yang mendukung berkembangnya geografi di dunia Islam.

Ketertarikan umat Muslim terhadap geografi diawali dengan kegandrungan atas astronomi. Perkembangan di bidang astronomi itu perlahan tapi pasti mulai membawa para sarjana untuk menggeluti ilmu bumi. Umat Islam mulai tertarik mempelajari peta yang dibuat bangsa Yunani dan Romawi. Beberapa naskah penting dari Yunani yang diterjemahkan, di antaranya Almagestdan Geographia.

Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah al-Ma’mun yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geografer Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Sejak saat itu, muncullah istilah mil untuk mengukur jarak. Sedangkan, orang Yunani menggunakan istilah stadion.

Upaya dan kerja keras para geografer Muslim itu berbuah manis. Umat Islam pun mampu menghitung volume dan keliling bumi. Berbekal keberhasilan itu, Khalifah al-Ma’mun memerintahkan para geografer Muslim untuk menciptakan peta bumi yang besar. Adalah Musa al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya yang mampu membuat peta globe pertama pada 830 M.

Khawarizmi juga berhasil menulis kitab geografi yang berjudul Surah Al-Ard(Morfologi Bumi), sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Kitab itu menjadi landasan ilmiah bagi geografi Muslim tradisional. Pada abad yang sama, al-Kindi juga menulis sebuah buku bertajuk Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni.

Sejak saat itu, geografi Islam pun berkembang pesat. Sejumlah geografer Muslim berhasil melakukan terobosan dan penemuan penting. Pada awal abad ke- 10 M, secara khusus Abu Zayd al-Balkhi yang berasal dari Balkh mendirikan sekolah di Kota Baghdad yang secara khusus mengkaji dan membuat peta bumi.

Sementara pada abad ke-11 M, seorang geografer termasyhur dari Spanyol, Abu Ubaid al-Bakri berhasil menulis kitab di bidang geografi, yakni Mu’jam Al- Ista’jam( Eksiklopedi Geografi) dan Al-Masalik wa Al- Mamalik( Jalan dan Kerajaan). Buku pertama berisi nama-nama tempat di Jazirah Arab, sedangkan yang kedua berisi pemetaan geografis dunia Arab zaman dahulu.

Pada abad ke-12, geografer Muslim Muhammad al- Idrisi berhasil membuat peta dunia. Al-Idrisi yang lahir di Ceuta, Spanyol, itu juga menulis kitab geografi berjudul Kitab Nazhah Al- Muslak fi Ikhtira Al-Falak ( Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Geographia Nubiensis.

Seabad kemudian, dua geografer Muslim, yakni Qutubuddin asy-Syirazi (1236 M-1311 M) dan Yaqut al-Humawi (1179 M-1229 M), berhasil melakukan terobosan baru. Qutubuddin mampu membuat peta Laut Tengah yang dihadiahkan kepada Raja Persia. Sedangkan, Yaqut menulis enam jilid ensiklopedi bertajuk Mu’jam Al-Buldan( Ensiklopedi Negerinegeri). Dengan menguasai geografi, umat Islam mampu menggenggam dunia pada abad pertengahan.