Kamis , 07 December 2017, 20:00 WIB

Para Pembangun Observatorium di Dunia Islam

Rep: hri/ Red: Agung Sasongko
Muslimheritage
Observatorium di Dunia Islam.
Observatorium di Dunia Islam.

REPUBLIKA.CO.ID,

Khalifah Al-Mamun

Dia adalah Khalifah Abbasiyah ketujuh yang telah sukses mengantarkan dunia Islam pada puncak kejayaan. Al-Mamun dikenal sebagai figur pemimpin yang dianugerahi intelektualitas yang cemerlang. Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Kemampuan dan kesuksesannya mengelola pemerintahan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.

Berkat inovasi gagasannya yang brilian, Baghdad - ibu kota Abbasiyah -- menjadi pusat kebudayaan dunia. Sang khalifah sangat menyokong perkembangan aktivitas keilmuan dan seni. Perpustakaan Bait Al-Hikmah yang didirikan sang ayah, Khalifah Harun Ar-Rasyid disulapnya menjadi sebuah universitas virtual yang mampu menghasilkan sederet ilmuwan Muslim yang melegenda.

Khalifah yang sangat cinta dengan ilmu pengetahuan itu mengundang para ilmuwan dari beragam agama untuk datang ke Bait Al-Hikmah. Ia juga mendirikan observatorium pertama di dunia Islam. Al-Ma'mun menempatkan para intelektual dalam posisi yang mulia dan sangat terhormat. Para filosof, ahli bahasa, dokter, ahli fisika, amtematikus, astronom, ahli hukum serta sarjana yang menguasai ilmu lainnya digaji dengan bayaran yang sangat tinggi.

Nasiruddin Al-Tusi

Sarjana Muslim yang satu ini dikenal sebagai ilmuwan serbabisa. Para sejarawan menyandingkan kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja, Thomas Aquinas. Astronom Muslim itu memiliki nama lengkap Abu Ja'far Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan Nasiruddin Al-Tusi. Ia terlahir pada 18 Februari 1201 M di kota Tus yang terletak di dekat Meshed, sebelah timur laut Iran.

Sebagai seorang ilmuwan yang amat kondang di zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama antara lain, Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir. Nasiruddin lahir di awal abad ke-13 M, ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvansi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis tentara Mongol dengan sangat kejam.

Dalam bidang astronomi dia telah berjasa membangun observatorium yang hebat di Maragha. Pusat penelitian fenomena langit itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku mencapai 400 ribu judul. Al-Tusi dan timnya yang profesional berhasil menyusun hasil penelitiannya dalam sebuah buku berjudul The Zij-i Ilkhani.

Taqi Al-Din

Ia tak hanya dikenal sebagai seorang saintis legendaris. Ilmuwan Muslim kebanggaan Kerajaan Ottoman itu juga termasyhur sebagai seorang astronom, astrolog, insinyur, inventor, fisikawan, matematikus, dokter, hakim Islam, ahli botani, filosof, ahli agama dan guru madrasah. Dunia ilmu pengetahuan modern juga mengakuinya sebagai ilmuwan yang sangat produktif.

Tak kurang dari 90 judul buku dengan beragam bidang kajian telah ditulisnya. Sayangnya, hanya tinggal 24 karya monumentalnya yang masih tetap eksis. Sederet penemuannya juga sungguh sangat menakjubkan. Pencapaiannya dalam berbagai temuan mampu mendahului para ilmuwan Barat.

Pada era kekuasaan Sultan Selim II, sang ilmuwan diminta untuk mengembangkan pengetahuannya dalam bidang astronomi oleh seorang hakim di Mesir Kazasker Abd al-Karim Efendi dan ayahnya Qutb Al-Din. Bahkan, Qutb Al-Din menghibahkan kumpulan karya-karyanya beserta beragam peralatan astronomi. Sejak itulah, ia mulai konsisten mengembangkan astronomi dan matematika.

Sejak itulah, ia resmi menjadi astronom resmi Sultan Selim II pada tahun 1571. Ia diangkat sebagai kepala astronom kesultanan (Munajjimbashi) setelah wafatnya Mustafa bin Ali Al-Muwaqqit - kepala astronom terdahulu. Taqi Al-Din juga dikenal supel dalam pergaulan. Ia mampu menjalin hubungan yang erat dengan para ulama dan pejabat negara.

Pemerintahan Usmani Turki mengalami perubahan kepemimpinan, ketika Sultan Selim II tutup usia. Tahta kesultanan akhirnya diduduki Sultan Murad III. Kepada sultan yang baru Taqi Al-Din mengajukan permohonan untuk membangun observatorium yang baru. Ia menjanjikan prediksi astrologi yang akurat dengan berdirinya observatorium baru tersebut.

Permohonan itu akhirnya dikabulkan Sultan Murad III. Proyek pembangunan Observatorium Istanbul dimulai pada tahun 1575. Dua tahun kemudian, observatorium itu mulai beroperasi. Taqi Al-din menjabat sebagai direktur Observatorium Istanbul. Dengan kucuran dana dari kerajaan Ottoman, observatorium itu bersaing dengan observatorium yang ada di Eropa, khususnya Observatorium Astronomi Raja Denmark.