Kamis , 07 December 2017, 16:45 WIB

Jejak Perjuangan Islam di Maroko

Red: Agung Sasongko
Istana El-Badi, Maroko
Istana El-Badi, Maroko

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Maroko dikenal sebagai salah satu negara yang kental dengan nuansa Islam. Padahal, berkembangnya Islam di negeri yang berbatasan dengan Aljazair dan Mauritania itu setelah melalui fase yang cukup panjang. Sebelum Islam masuk, negeri yang berada di Afrika bagian utara itu hanyalah sebuah wilayah yang keadaan masyarakatnya terbelakang. Saat itu wilayah yang sempat dikuasai Kekaisaran Romawi, lalu beralih ke tangan Vandals, Visigoth, dan Imperium Bizantium itu cukup memerihatinkan dari berbagai sisi kehidupannya.

Namun masa jahiliyah itu secara perlahan berakhir tatkala cahaya Islam mulai menyinari negeri itu pada abad tujuh masehi. Pada 670 M, Uqba Ibnu Naif, seorang dai Islam sekaligus utusan dari Dinasti Umayyah, memimpin pasukan Islam memasuki wilayah itu. Peradaban tinggi Islam pun akhirnya menyinari negeri yang terletak di antara Laut Mediteranea, Sahara, dan Samudra Atlantik itu. Namun, berkembangnya Islam di negeri itu bukan tanpa rintangan. Pasukan Islam butuh sekitar 53 tahun untuk menguasai sepenuhnya daerah tersebut. Dan butuh satu abad untuk berasimilasi dengan penduduk asli tersebut, suku barbar.

Maroko semula dikuasai oleh bangsa barbar, daerah pesisir yang dikenal dengan nama Maroko berada di bawah kekuasaan Phoenician dan Carthaginian dari dari tahun 10-3 SM. Keduanya, Phoenician dan Carthaginian menggunakan pantai tersebut untuk urusan perdagangan dengan negaranegara di sekitar Iberian Peninsula atau Semenanjung Iberian.

Saat Romawi mulai ekspansi wilayah kekuasaan ke Afrika Utara pada tahun 1 SM, pertama kali mereka mengambil Pelabuhan Mediterania dan tidak masuk hingga daratan. Namun, Provinsi Mauritania Tingitana berdiri di bagian selatan dari semenanjung itu. Invasi kaum Vandal di awal tahun 5 M sebagian besar melalui Maroko yang berhadapan langsung dengan negara makmur sekarang yang dikenal dengan Tunisia. Ada invasi berikutnya yang kali ini dilakukan oleh Visigoths pada 6 M. Islam dibawa masuk ke Maroko oleh para penyerang Arab hingga ke wilayah
timur jauh dari Afrika Utara di tahun 684. Dan, perubahan dari bangsa barbar menempati peran penting pada penaklukan Islam atas Spanyol.

Doktrin Schismatic oleh Khawarijism, yang menyangkal budaya Arab murni di awal masa Islam, menyebabkan percekcokan internal pada pertengahan tahun 8 M. Setelah Maroko dikuasai penuh Dinasti Umay yah, pimpinan dinasti tersebut yakni Mu sa bin Nusair, mengangkat Tariq bin Ziyad se bagai gubernur Maroko.
Saat itu terjadi revolusi sosial ke arah positif. Warga suku barbar semakin harmonis, segala peraturan Islam yang bersumber dari Alquran dan hadis mulai di terapkan dalam segala aspek kehidupan, per eko nomian dan kesejahteraan masyarakat
meningkat, ilmu pengetahuan pun berkembang cukup pesat.

Ketika kekuasaan Dinasti Umayyah digu- lingkan Dinasti Abbasiyah, Maroko pun menjadi wilayah kekuasaan Abbasiyah. Perubahan kekuasaan itu memunculkan dinasti kecil di Maroko namun tetap berpusat pada Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Pada 172 H/789 M, berdirilah Kerajaan Idrisid dinasti Syiah pertama--yang didirikan Idris I bin Abdullah seorang keturunan Ali bin Abi Thalib. Padahal, Abbasiyah merupakan dinasti yang ber aliran Suni. Lima tahun memimpin, Idris I pun terbunuh
kemudian digantikan Idris II. Pada masa kekuasaan Idris II inilah Dinasti Idrisid melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah.

Idris II sukses menjadikan Maroko sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Dan sejak pada masa inilah pusat pemerintahan dipindahkan dari Walila, ke Fez. Dinasti ini berakhir pada 364 H/974 M. Pasca wafatnya Idris II, para penerusnya kebanyakan lemah, kecuali Yahya bin Muhammad dan Yahya IV.

Bahkan di bawah kekuasaan Yahya IV ini Dinasti Idrisid mencapai puncak kejayaannya. Lalu setelah Dinasti Idrisid tumbang, bangsa Arab mulai kehilangan pengaruh politiknya di Maroko. Dinasti Fatimiah yang beraliran Syiah memanfaatkan kondisi tersebut di atas. Dinasti yang berbasis di Kairo, Mesir, itu berhasil mengambil alih kekuasaan hingga 1171 M.

Ketika Dinasti Fatimiah kehilangan kendali atas Maroko, muncul Dinasti Al-Murabitun yang berpusat di Marrakech sebagai penggantinya. Kekuasaannya mencakup Gunung Sahara, Afrika barat laut, dan Spanyol. Dinasti Fatimiah mengalami masa keemasan saat dipimpin Ibnu Tasyfin. Ia mengirimkan 100 kapal, 7.000 tentara berkuda serta 20 ribu tentara saat diminta Mu'tad bin Ibad, raja Sevilla untuk melawan tentara Kristen yang ingin melenyapkan Islam di Eropa. Da lam pertempuran itu, pasukan Islam menang gemilang dan berjaya di Spanyol hingga empat abad lamanya. Setelah kekuasaan Murabitun jatuh, Maroko dikendalikan Dinasti Al-Muwahhidun (1121-1269 M).

Pada masa kepemimpinan Abu Ya'kub Yusuf bin Abdul Mu'min (1163-1184 M), kota Marrakech menjadi salah satu pusat peradaban Islam di bidang sains dan sastra, serta menjadi pelindung kaum Muslimin untuk mempertahankan Islam dari serangan dan  ambisi Kristen Spanyol. Dinasti ini juga ikut membantu Salahudin Al-Ayubi melawan tentara Kristen dalam Perang Salib.

Pascaruntuhnya Dinasti Al-Mu wahhidun, Maroko dikuasai beberapa inasti seperti; Dinasti Marrin, Dinasti Wattasi (1420-1554 M), Syarifiyah Alawiyah (1666 M), Abdul Qadir Al- Jazairy (1844 M), dan Sultan Hasan I (1873 M1894 M). Pada abad 20, Maroko berada di bawah kekuasaan Prancis, se belum akhirnya merdeka pada 18 November 1956. Hingga kini, selain anggota Organisasi Konferensi Islam, Maroko yang penduduknya mahir berbahasa Arab dan Prancis itu pun terdaftar sebagai anggota Franco phonie (negara-negara penutur bahasa Perancis). 

Disarikan dari Islam Digest Republika