Rabu 22 Nov 2017 19:00 WIB

Islam Senantiasa Bercokol Kuat

Ribuan umat muslim di Rusia melaksanakan Shalat Idul Adha 1436 H di Masjid Agung Moskow atau Moskovskiy Soborniy Mecet, Kamis (24/9).REUTERS/Maxim Shemetov
Foto: REUTERS/Maxim Shemetov
Ribuan umat muslim di Rusia melaksanakan Shalat Idul Adha 1436 H di Masjid Agung Moskow atau Moskovskiy Soborniy Mecet, Kamis (24/9).REUTERS/Maxim Shemetov

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh Hasanul Rizqa

 

Pengamat budaya, Aleksey Malashenko, menulis, Di masa kekuasaan Uni Soviet, sikap abai terhadap agama ditanamkan begitu dalam ke kesadaran kolektif masyarakat. Sampai taraf yang sedemikian keras, agama hendak digantikan dengan pola pikir Komunisme.

'Memaksakan' agama agar enyah dari keluarga dan individu. Namun, salah bila kita pandang bahwa telah terjadi proses ateis atas seluruh masyarakat. Ada banyak orang beriman di Uni Soviet dan di Rusia saja.

Terpisah, Dmitry Gorenburg menulis artikel Russia Menghadapi Islam Radikal (2006). Menurut dia, sejak akhir 1990-an, total masjid di Rusia melonjak, yakni dari 300 unit pada 1991 menjadi 4.000 unit pada 2001, kemudian menjadi lebih dari 8.000 unit pada 2006-an.

Sejumlah pengamat memperkirakan, dalam 10 tahun mendatang atau 2016 kini, akan ada 15 ribu unit masjid di Rusia. Banyak masjid yang mendapatkan dukungan finansial dari yayasan-yayasan asal Arab Saudi atau Iran.

Sejak runtuhnya Uni Soviet, migrasi Muslim ke Rusia cukup banyak dari Asia Tengah dan Azerbaijan. Gorenburg juga mengamati, ada perbedaan corak praktik agama antara kaum Muslim di Kaukasus Utara dan wilayah Volga serta Siberia.

Muslim di Kaukasia Utara lebih beragam secara etnis, termasuk Chechens, Ingush, Avars, Dargins, Kumyks, Lezgins, Circassians, dan lain-lain. Tiap etnis punya tradisi yang berbeda-beda, kata Gorenburg.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement