Jumat 17 Nov 2017 20:15 WIB

Menilik Taman Abbasiyah

Bekas istana Daulah Abbasiyah di Baghdad, Irak.
Foto: flickr.com
Bekas istana Daulah Abbasiyah di Baghdad, Irak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Taman berkembang pesat di masa Islam. Salah satunya di masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Saat itu, taman merupakan hal baru yang kemudian dikembangkan dengan nilai artistik Islam. Pengembangan taman di masa itu terkait erat dengan Baghdad dan Samarra.

Taman yang berada di Samarra merupakan taman terpenting kedua Abbasiyah, berjarak 110 km di sebelah utara Baghdad pada 835 Masehi oleh Khalifah al-Mu'tasim. Ilmu tanaman menjadi faktor utama yang memengaruhi gaya pembuatan taman dan kebun pada saat itu.

Namun kemudian, muncul pengaruh Persia. Ini ditandai dengan adanya elemen-elemen pelengkap taman yang berasal dari bahan yang indah, mahal, dan berkilauan. Elemen taman yang indah dan mahal ini banyak terdapat di istana-istana Samarra dan Baghdad.

Al-Mu'tadhid, salah satu penguasa Abbasiyah, membangun istana Al-Thurayya yang dikelilingi taman indah. Di tengah-tengah taman, dibuat danau dalam ukuran yang sangat besar. Airnya berasal dari Sungai Musa yang ada di sebelah timur dan Tigris yang ada di barat istana.

Pada abad kesembilan, seorang putra Sultan Harun Al-Rasyid yang bernama Al Mu'tasim mendirikan ibu kota Abbasiyah kedua di Samarra. Bahkan, seorang ahli geografi yang bernama al-Ya'qubi menulis, Kota Samarra lebih indah dan megah daripada Kota Baghdad.

Al Ya'qubi mengungkapkan, seluruh tanah di Samarra diubah oleh Al-Mu'tasim menjadi taman-taman yang indah dan mewah. Dalam setiap taman, terdapat sebuah istana yang dilengkapi dengan aula, kolam, dan taman bermain untuk berkuda dan untuk bermain polo.

Putra Al Mu'tasim, Al-Mutawakkil, dikenal sangat menyukai mawar. Ia memiliki kemampuan yang melampaui ayahnya dalam pembuatan taman. Menurut sejumlah data arkeologi dan sastra, salah satu dari 17 istana Al-Mutawakkil yang disebut al-Jawsaq al-Khaqani memiliki luas sebesar 432 hektare.

Istana tersebut terdiri atas taman-taman dengan paviliun, aula, dan kolam, di mana seluruh kompleksnya dikelilingi oleh dinding. Untuk memelihara berbagai taman yang indah, para penguasa Abbasiyah membangun sistem irigasi yang luas.

Irigasi ini bertujuan untuk membawa air sungai dan membuat noria atau kincir air agar dapat memompa air guna mengairi setiap taman dan kolam di kota. Al-Mutawakkil juga memerintahkan pembangunan kebun binatang di Samarra, bernama Hair al-Wuhush, yang ada di wilayah selatan.

Kebun binatang itu dihuni dua ribu jenis binatang yang berbeda, baik yang liar maupun yang jinak. Taman juga dibuat dalam kebun binatang itu. Taman tersebut berisi pohon dan semak yang didatangkan dari luar negeri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement