Senin , 13 November 2017, 20:45 WIB

Madrasah Tradisional di Baghdad

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
ist
Ilustrasi kota melingkar Baghdad di abad ke-10.
Ilustrasi kota melingkar Baghdad di abad ke-10.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Islam datang untuk mengatur urusan dunia dan akhirat. Dengan memanfaatkan pendidikan Islam dan ilmu duniawi, Muslim menerapkan ajarannya dalam kehidupan.


 Dengan meluasnya wilayah Islam, muncul kebutuhan untuk mengembangkan masyarakat, memperluas cakrawala intelektual. Pada periode Abbasiyah, banyak sekolah didirikan, terutama di Irak.

 Baghdad, jantung kekhalifahan Abbasiyah menyediakan sains dan ilmuwan dengan jumlah terbesar. Buku sejarah, historiografi dan biografi menyebutkan sekitar 30 sekolah berdiri di Baghdad.

 Sekolah Tertua

 Madrasah yang terkenal ketika itu adalah Nizamiyah. Berdasarkan sumber-sumber bersejarah, sekolah ini dibangun oleh menteri Seljuk Nizamul Muluk pada tahun 462 AH (1069 M).

 Nizamiyah memiliki tradisi yang melibatkan ilmuwan, pelajar, dan pewakaf. Kemajuan Nizamiyah terlihat dalam metode pengajaran. Ini adalah hasil Nizamul Mulk mengelola sekolah-sekolah. Kondisi ini berlanjut dengan sekolah yang didirikan setelah masa pemerintahannya.

 Nizamul Muluk berusaha meningkatkan penghasilan guru. Biaya pemeliharaan sekolah juga ditingkatkan. Dia menghapuskan biaya kuliah yang sebelumnya dikenakan pada siswa, mengalihkan tanggung jawab biaya pendidikan kepada negara.

 Universitas Terkemuka

 Bersamaan dengan invasi Mongol, Universitas Mustansiriyah menjadi yang terbesar pertama di Baghdad selama masa Abbasiyah. Empat mazhab fikih diajarkan di dalamnya.

 Terlebih lagi, ini adalah universitas Islam pertama yang peduli dengan studi Alquran dan Sunnah, fikih, bahasa Arab, matematika, kedokteran, dan kesehatan. Universitas ini dinamakan Munstansiriyah, seperti nama khalifah Abbasiyah ketika itu al-Mustansir Billah, Mansur bin Muhammad az-Zahir (1192-1242 M). dia naik ke tampuk kekuasaan pada 623 AH (1226 M). Sejarah mencatat khalifah satu ini masyhur dalam pengembangan pendidikan.

 Pendidikan di Mustansiriyah

 Tepat pada 5 Rajab 631 H atau 6 April 1234 M perguruan tinggi Mustansiriyah diresmikan. Sebanyak 62 siswa dipilih untuk belajar di sana. Selanjutnya dua rektor dan dua wakil rektor diangkat untuk memimpin universitas ini.

 Mereka adalah Muhyidin Abu Abdullah Muammad bin Yayabin Fadhlan as-Syafi'i, dan Rasyiduddin Abu Hafs Umar bin Muhammad al-Farghani al-Hanafi. Sedangkan dua wakil rektor adalah Jamaluddin Abul-Faraj Yusuf bin Abdur Rahman bin al-Jauzi al-Hanbali dan Abul Hasan Ali al-Maghribi al-Maliki.

 Mereka yang berbeda mahzab menempuh pendidikan di ruangan yang berbeda. Ruang kanan kiblat untuk murid bermahzab Syafii. Ruang kiri kiblat untuk yang bermazhab Hanafi. Ruang kanan pintu masuk untuk siswa yang bermazhab Hambali dan ruang kiri pintu masuk untuk Mazhab Maliki.