Senin , 13 November 2017, 19:45 WIB

Muslim Honduras Jaga Kebersamaan

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
Peta Honduras, ilustrasi
Peta Honduras, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Honduras adalah salah satu negara di Amerika Tengah.Negeri ini berbatasan dengan Guatemala dan El Salvador di barat dan Samudra Pasifik serta Nikaragua di selatan. Spanyol menjajah Honduras pada tahun 1502 dan menetap di sana sampai 1838. Kemudian negara itu merdeka. Ibu kotanya adalah Tegucigalpa dan kota terbesarnya adalah San Pedro yang padat aktivitas.

Orang kulit putih Barat telah melakukan kejahatan terburuk dalam sejarah yang enggan mereka ingat. Sejarawan Eropa banyak yang diam dalam masalah ini, seolah-olah itu tidak pernah terjadi. Tidak ada sumber Barat yang mencoba memecahkan teka-teki hilangnya 'pelaut Arab-Muslim'. Mereka adalah yang dipaksa pergi oleh penjelajah Spanyol dan Christopher Columbus.

Mereka membantai Muslim dengan saat armadanya berla yar melintasi Honduras, Haiti, dan Kuba. Tindak an ini dilakukan untuk mencegah orang-orang Moor menginformasikan teman-te man mereka tentang dunia baru setelah mereka kembali ke Spanyol. Kemudian me reka melarikan diri agar lolos dari peng aniayaan Spanyol dan memulai hidup di dunia baru.

Muslim menjadi minoritas di Honduras. Jumlah mereka mencapai 300 ribu orang dari tujuh juta penduduk Honduras. Terlepas dari kenyataan bahwa angka ini agak rendah, tetapi sepuluh tahun yang lalu, ratusan imigran Muslim, baru tiba dari negara-negara Arab.

Honduras menerima imigran Arab untuk pertama kalinya pada 1896 dan 1918. Menurut sebuah survei lokal, imigran Arab adalah orang Kristen Palestina yang sebagian besar di San Pedro Sula. Mereka berimigrasi karena kekuasaan Turki Usmani di Palestina. Ketika itu orang-orang Arab melarikan diri dengan paspor Turki Usmani dan mendatangi Honduras.

Imigran meningkat kembali setelah Perang Dunia II dan Perang Arab-Israel pada 1948. Pada 1984, sebuah badan amal Islam didirikan, dengan tujuan utama untuk kepentingan Muslim di negara tersebut.

Sejak saat itu sebuah masjid telah dibangun. Tempat itu dimanfaatkan untuk memperkuat silaturahim dalam bentuk kegiatan keilmuan, seperti diskusi tentang persoalan sosial dan keagamaan. Masjid juga menjadi tempat pendidikan anakanak. Mereka mempelajari Alquran dan bahasa Arab.