Selasa , 17 October 2017, 06:13 WIB

Masjid Dublin tak akan Gunakan Pengeras Suara

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Agus Yulianto
images.ratemyarea.com.
Masjid ICCI Irlandia (Ilustrasi)
Masjid ICCI Irlandia (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, DUBLIN -- Dr Taufiq al-Sattar, seorang ahli bedah saraf di Dublin, berjanji untuk membangun masjid tersebut untuk mengenang almarhum istrinya dan tiga anak yang meninggal dalam serangan pembakaran di Leicester, Inggris, pada September 2013.

Dilansir dari irishcentral.com, Senin (16/10) Dr al-Sattar mengatakan pembangunan tersebut akan sesuai dengan semua persyaratan yang ditetapkan oleh dewan tersebut. "Kami tidak akan menyalakan musik, dan kami memberi tahu dewan tersebut terlebih dahulu," ujar dia.

Dia menambahkan, yayasan tersebut juga akan mendanai pelebaran jalan sebagai bagian dari pembangunan untuk mengatasi masalah lalu lintas. Masjid tersebut dibiayai dari dana keluarga Dr Al-Sattar dan tabungan hidup, serta sumbangan dari komunitas Muslim di Leicester. Dia juga akan mengumpulkan dana di antara komunitas medis di Arab Saudi dan Pakistan untuk pembangunan tersebut.

Dewan Kabupaten Fingal memberikan izin untuk mendirikan masjid kepada Yayasan Shuhada di Irlandia bulan lalu. Selain masjid juga akan dibangun menara setinggi 95 kaki, pusat komunitas, dan sebuah sekolah dasar akan dibangun di lokasi Warrenstown House, di Blanchardstown.

Saat memberikan izin untuk pengembangan, dewan tersebut telah memerintahkan agar seruan untuk shalat tidak dapat didengar dari luar batas lokasi dan tidak ada musik lain atau suara yang keras yang dapat disiarkan.

Penduduk setempat di Dublin barat telah mengajukan banding terhadap rencana untuk sebuah masjid berskala besar di daerah tersebut, dengan alasan kekhawatiran bahwa seruan untuk berdoa akan menyebabkan polusi suara.