Kamis , 12 October 2017, 15:31 WIB

Umayyah Kembangkan Gaya Klasik Musik Islam

Rep: Marniati/ Red: Agung Sasongko
albumislam.com
 Kota Damaskus, Suriah, pusat kekuasaan Dinasti Umayyah.
Kota Damaskus, Suriah, pusat kekuasaan Dinasti Umayyah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perluasan wilayah membawa dampak yang luar biasa bagi peradaban Islam. Terjadi dialektika antarperadaban yang memicu transformasi sains dan budaya, tak terkecuali musik. Kondisi ini memicu diskusi hangat seputar hukum musik dan bermusik, setidaknya pada abad-abad awal, ketika dinasti Islam berkuasa.    

Kendati demikian, diskursus seputar hukum musik itu tak memengaruhi kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah ketika itu. Abdurrahman al- Baghdadi dalam Seni dalam Pandangan Islam menjelaskan, para khalifah terdahulu tidak pernah melarang rakyatnya mempelajari seni suara dan musik.

Mereka dibiarkan mendirikan sekolah-sekolah musik dan membangun pabrik alat-alat musik. Mereka diberikan gairah untuk mengarang buku-buku tentang seni suara, musik, dan tari. Negara juga tidak pernah mengambil tindakan hukum terhadap biduan atau biduanita yang bernyanyi di rumah-rumah individu. Bahkan, mereka diberi izin untuk bernyanyi di istana dan di rumah penguasa. 

Dilansir dari andrsib.com, di bawah Kekhalifahan Umayyah (661-750), gaya klasik musik Islam dikembangkan lebih lanjut. Ibu kota dipindahkan ke Damaskus (Suriah) dan tempat yang dipadati dengan musisi laki-laki dan perempuan dibuat menjadi kelas terpisah.

Banyak musisi terkemuka kelahiran Arab. Tapi, unsur asing terus memainkan peran dominan dalam musik Islam. Musisi terbesar dan pertama dari era Umayyah adalah Ibn Misjah sering dihormati sebagai bapak musik Islam. Ibn Misjah lahir di Makkah dari keluarga Persia.

Dia adalah seorang ahli teori musik dan terampil menyanyi dan bermain kecapi. Ibn Misjah melakukan perjalanan ke Suriah dan Persia untuk belajar teori dan praktik musik Bizantium dan Persia serta menggabungkan banyak pengetahuan yang diperoleh dalam lagu seni Arab.

Meskipun ia mengadopsi unsur-unsur baru seperti mode musik asing, ia menolak sifat-sifat musik lainnya karena tidak cocok untuk musik Arab. Pengetahuan tentang kontribusi dan informasi penting tentang musik dan kehidupan musik telah ada sejak tiga abad pertama Islam.