Kamis , 12 Oktober 2017, 13:43 WIB

Studi Islam: Tradisional Bukan Tertinggal

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Republika / Darmawan
Naskah Kuno
Naskah Kuno

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Secara harfiah, studi Islam (Islamic studies) tentunya dimulai dari umat Islam sendiri sejak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Namun, pemaknaan baru yang lebih politis atas istilah studi Islam bermula sejak para biarawan Kristen Eropa (Barat) pada abad ke-16 mulai tertarik untuk mempelajari agama ini.

Sifat politis itu terjadi karena para peneliti Barat cenderung memosisikan diri sebagai subjek atas Islam dan/atau umat Islam selaku objek. Kecenderungan ini kian mengkristal setelah Perang Salib berakhir serta belakangan kemunculan orientalisme sebagai diskursi akademis.

Untuk memetakan tren studi Islam dalam abad ke-21 kini, Hamid Fahmy Zarkasyi dalam artikelnya di Jurnal Edukasi (Desember, 2015) memisahkan dunia Islam dan Barat. Menurut dia, studi Islam di negara-negara mayoritas Muslim masih bersifat tradisional dalam memilah fakultas. Pemilahan itu, umpamanya, menghasilkan fakultas-fakultas usuluddin, tarbiyah, syariah, Alquran, tafsir, hadis, dan sebagainya.

Namun, sifat itu tidak berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman. Integrasi studi Islam dan modernitas terjadi di banyak universitas di negara-negara Muslim sehingga antara lain menghasilkan jurusan perbankan syariah atau ekonomi Islam. Bahkan, kampus-kampus terkemuka di Barat kemudian mengembangkan jurusan yang sama.

Sementara itu, studi Islam di Barat perahan-lahan mulai lepas dari kungkung an orientalisme dan teologi Kristen. Da lam abad ke-21, menurut Hamid, kecen de rungan studi Islam ini bertumpang tindih dengan kajian Timur Tengah (Middle East area studies), disiplin ilmu humaniora, ilmu sosial, serta ilmu agamaagama (religious studies).

Di Amerika Serikat, Pembantu Rektor III Universitas Darussalam Gontor ini menyajikan contoh, Insiden 9/11 me nyebabkan menjamurnya studi Islam di pelbagai kampus. Dia menyebutkan bebe rapa di antaranya, yakni King Fahd Center for Middle East and Islamic Studies (2000) di Universitas Arkansas, Zwemer Center for Muslim Studies (2000) di Columbia International University, Center for the Study of the Middle East and Muslim Civilizations (2003) di Universitas North Ca rolina, Center for Middle East and Islamic Studies (2005) di The US Naval Aca demy, dan Jewish Institute of Religion's Center for Muslim-Jewish Engagement (2008) di University of Southern California dan the Hebrew Union Collage.

Insiden 9/11 juga mendorong para peneliti ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk menguji dugaan apakah ada hubungan inheren antara Islam dan terorisme. Namun, dorongan ini bagaikan koin yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, ada nuansa untuk 'menjinakkan' Islam karena masih menganggap Muslim sebagai orang asing (aliens). Di sisi lain, ada keinginan untuk sematamata mengenal Islam dan Muslim sebagai orang lain (the other).