Rabu , 13 September 2017, 17:45 WIB

Jejak Sang Laksamana Muslim

Rep: Ali Yusuf/ Red: Agung Sasongko
Maspril Aries
KAPAL CHENG HO -- Jika di Semarang replika kapal Cheng Ho yang dibangun pada 2005 dibongkar pada 2014 lalu, kini di Sumatera Selatan (Sumsel) tepatnya di komplek Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Palembang, Sabtu (23/7)
KAPAL CHENG HO -- Jika di Semarang replika kapal Cheng Ho yang dibangun pada 2005 dibongkar pada 2014 lalu, kini di Sumatera Selatan (Sumsel) tepatnya di komplek Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Palembang, Sabtu (23/7)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Lebih dari 600 tahun yang lalu, tepatnya 11 Juli 1405, 317 kapal yang diawaki oleh lebih dari 28 ribu awak memulai perjalanan mereka yang bernama "Ekspedisi Harta Karun" yang ditujukan untuk menunjukkan kebesaran Kekaisaran Kaisar Zhu sebagai "The Son of Heaven" (anak surga) kepada dunia.

Nama Laksamana Cheng Ho, penjelajah dunia yang beragama Muslim asal Tiongkok, ini cukup melegenda. Tokoh yang memiliki nama Islam Mahmud Shams ini menjelajah samudra luas selama 30 tahun lebih, dari 1405 hingga 1433 M.

Pelayaran pertama ini mampu mencapai Caliut, barat daya India dan sampai di wilayah Asia Tenggara meliputi Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Vietnam, Srilangka. Untuk wilayah Jawa, Cheng pernah singgah di Pantai Maron atau Pantai Marina Semarang Jawa Tengah. Berikut ini sejumlah petilasan atau jejak Cheng Ho yang dapat diakses hingga kini: 

Kuil Sam Poo Kong

Kuil yang terletak di Simongan, Semarang, Jawa Tengah, ini dipercaya sebagai markas armada Cheng Ho saat sedang berlayar melewati Laut Jawa dan terpaksa berhenti karena salah satu orang kepercayaannya jatuh sakit. Semula bangunan kuil yang berfungsi sebagai masjid ini modelnya sederhana, berupa gua batu.  

Cheng Ho pun menggunakan gua batu itu untuk shalat, lalu sebelum meninggalkan Jawa, ia membangun masjid di gua itu. Seiring perjalanan, masjid ini beralih fungsi menjadi Kuil Sam Poo Kong. Selama berada di kuil ini, Cheng Ho mendakwahkan Islam dan mengajarkan cara bercocok tanam. 
 
Peta Navigasi

Peta navigasi Cheng Ho ini merekam rute sejumlah ekspedisi yang dilakukan oleh Cheng Ho beserta awaknya. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Jalur perdagangan Cina berubah, tidak sekadar bertumpu pada 'Jalur Sutera' antara Beijing-Bukhara.

Keberadaan peta ini sangat penting dalam upaya eksplorasi dunia. Peta ini mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Jalur ekspedisi ini, antara lain, melewati Aden, Teluk Persia, dan Mogadishu (Afrika Timur). Jalur ini diulang kembali pada ekspedisi kelima (1417M-1419 M) dan keenam (1421 M-1422 M). Ekspedisi terakhir (1431 M-1433 M) berhasil mencapai Laut Merah.
 
Kapal

Meski hanya tiruan belaka, replika kapal Cheng Ho yang berada di Gang Lombok, Semarang. Matt Rosenberg, ahli geografi terkemuka dunia, mengungkapkan, kapal laut yang digunakan Cheng Ho mengelilingi hampir seluruh samudra di dunia memakan waktu sampai 87 tahun. Di setiap persinggahan, armada itu melakukan transaksi dengan cara barter untuk mendapatkan perbekalan perjalanan.

Bahkan, kata Rosenberg, kapal laut yang dimiliki Cheng Ho lebih dulu berlayar daripada kapal laut milik pelaut kebanggaan Barat, Christopher Columbus. Ukurannya pun konon lebih besar tujuh kali lipat dibandingkan kapal-kapal yang digunakan oleh pelaut-peluat Eropa pada masa itu.