Sabtu , 12 Agustus 2017, 22:15 WIB
Lindungi Masjid Al-Aqsha

Karena Islam, Masjid Al-Aqsha Peroleh Kehormatannya Kembali

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
Ilustrasi Ninio
Peta Kompleks Masjid Al-Aqsha.
Peta Kompleks Masjid Al-Aqsha.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarawan Kristen, Lambert Dolphin, menuturkan, Masjid al-Aqsha—yang oleh sebagian kalangan Yahudi dan Nasrani sekarang dianggap sebagai Haikal Sulaiman—rampung dibangun pada 953 SM. Untuk merayakan momen tersebut, Nabi Sulaiman pun memerintahkan rakyatnya untuk menyembelih (berkurban) 22 ribu ekor sapi dan 120 ribu domba sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

“Dalam Perjanjian Lama (kitab suci Kristen) disebutkan, Sulaiman mengadakan pesta besar untuk merayakan pembangunan Kuil Sulaiman. Seluruh penduduk Kerajaan Israil mengikuti perayaan itu selama tujuh hari,” ujar Dolphin.

Rabbi Yahudi asal AS, Joseph Telushkin, mengatakan, kurban menjadi ritual umum di Haikal Sulaiman sampai bangunan itu dihancurkan oleh bangsa Babilonia sekitar empat abad kemudian atau tepatnya pada 586 SM.

Menurut Bibel, kuil yang dibangun Raja Sulaiman memiliki panjang 55 meter, lebar 27 meter, dan tinggi 15 meter. “Namun, titik tertinggi kuil itu sebenarnya 120 hasta atau sekitar 63 meter,” ungkap Telushkin dalam karyanya, “Jewish Literacy”.

Selama berabad-abad, kata Telushkin lagi, kaum Muslimin mengambil alih Yerusalem dan kemudian membangun dua buah masjid di bekas lokasi Haikal Sulaiman.

Dia pun menuduh praktik semacam itu sudah menjadi semacam tradisi dalam Islam. “Ini bukan sebuah kebetulan, tapi memang sudah menjadi kebiasaan umum dalam Islam untuk membangun masjid di atas situs suci orang lain,” katanya.

Namun, klaim rabbi Yahudi tersebut dibantah para sejarawan Muslim, termasuk al-Kalby. Menurut dia, sejak Raja Nebukadnezar (634-562) dari Babilonia menghancurkan Bait Allah yang dibangun Sulaiman, bangsa Israil kembali jatuh ke dalam sistem perbudakan. Kali ini, mereka diperbudak oleh para penduduk yang menghuni wilayah antara Sungai Nil dan Eufrat.

Setelah 70 tahun mengalami perbudakan di Babilonia, bangsa Israil akhirnya mendapatkan kemerdekaannya kembai setelah Raja Cyrus dari Persia (yang hidup antara 576-530 SM) membebaskan mereka. “Pada saat itu, sedikit sekali orang Israil yang mau kembali ke Palestina dan merawat Beteyel atau Masjid al-Aqsha,” kata al-Kalby.

Enam abad berikutnya (70 Masehi), orang-orang Romawi menghancurkan Masjid al-Aqsha dan mengubahnya menjadi tempat penyembahan berhala. Ketika Kaisar Konstantin memutuskan memeluk agama Kristen pada 315, penghargaan masyarakat Romawi terhadap Beteyel sangatlah buruk. Penduduk Yerusalem, termasuk orang-orang Yahudi sendiri, bahkan membuang sampah mereka ke rumah Allah tersebut.

“Orang-orang Yahudi tidak lagi menganggap Beteyel sebagai tempat kudus. Sampai datangnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, barulah Masjid al-Aqsha itu memperoleh 'kehormatannya' kembali,” tutur al-Kalby.