Selasa, 7 Ramadhan 1439 / 22 Mei 2018

Selasa, 7 Ramadhan 1439 / 22 Mei 2018

Pejuang Banjar Gigih Melawan Penjajah

Jumat 14 Juli 2017 18:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Masjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin

Foto: Wikipedia

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Islam di Indonesia pada tanggal 7 Juni 1607, seorang pedagang Belanda, Gilis Michielse-zoon, mendarat di Banjarmasin. Namun, ia dibunuh dan kapalnya dirampas. Pada 1612, VOC datang membalas dendam. Kota Banjarmasin dihancurkan dengan senjata api. "Akhirnya, Sultan Marhum Panembahan memindahkan pusat kerajaan ke Kayu Tangi," ujarnya.

Pemerintahan di Kayu Tangi menjadi era baru bagi Kesultanan Banjar. Namun, VOC terus saja berusaha menduduki Kalimantan Selatan dengan memonopoli perdagangan. Kendati terus terjepit oleh Belanda, Kesultanan Banjar terus bertahan. Hingga pergantian kekuasaan Banjar dicampuri penjajah Belanda. Kesultanan mulai goyah. Tak lama kemudian, Kesultanan Banjar dihapus oleh Pemerintah Belanda pada 11 Juni 1860.

Namun, kegigihan para pejuang Banjar untuk mengusir penjajah terus bergulat terutama pada 1859 hingga 1863. Banyak tokoh pejuang bermunculan. Di antara mereka terdapat satu yang sangat terkenal, yakni Pangeran Antasari.

Menurut laman resmi Kesultanan Banjar, Pangeran Antasari diangkat menjadi Sultan Banjar pada 14 Maret 1862. Ia menggantikan Pangeran Hidayatullah II yang diasingkan ke Cianjur. Bergelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, Pangeran Antasari sangat gigih mengusir para penjajah. Ia dibantu seorang panglima perang bernama Tumenggung Surapati. Pusat perjuangannya berada di Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Nama Antasari hingga kini masih harum bagi bangsa Indonesia mengingat ia diberi gelar pahlawan nasional.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES