Jumat , 16 Juni 2017, 14:00 WIB

Geliat Islam di Utrecht

Red: Agung Sasongko
weaselzippers.us
Muslim di Belanda/ilustrasi
Muslim di Belanda/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Di Belanda, terdapat empat kota konsentrasi komunitas Muslim, yakni Amsterdam, Utrecht, Rotterdam, dan Den Haag. Amsterdam menduduki peringkat pertama dengan persentase Muslim mencapai 17 persen dari total populasi kota. Sebuah persentase yang besar jika dibanding secara nasional karena Muslimin hanya mengambil bagian lima persen dari demografi negeri kincir angin itu.

Namun, tak hanya di Ibu Kota Amsterdam, geliat Muslim Belanda juga sangat kentara di Kota Utrecht. Kota terbesar keempat Belanda ini merupakan rumah bagi sekitar 45 ribu Muslimin atau sekitar 14 persen dari total penduduk Kota. Menurut laman Euro-Islam, kegiatan ataupun aktivitas Muslimin Belanda banyak terjadi di Utrecht, selain di Ibu Kota Amsterdam.

Komunitas Muslim Utrecht banyak berada di kawasan para imigran. Mengingat, mereka memang para pendatang meski tak sedikit jumlah Muslim dari kalangan warga asli Belanda. Jika menilik sejarah Islam di Belanda, Islam datang bersama dengan imigran asal Indonesia pada 1945. Sebagian mereka merupakan mantan tentara KNIL. Jumlah Muslimin di antara mereka sekitar 1.000 orang.

Namun, imigran Indonesia tersebut tak banyak mengambil andil dalam pembentukan awal komunitas Muslim di Belanda. Komunitas Muslim baru mulai terlihat ketika datang para imigran asal Suriname. Jumlah mereka terus meningkat sejak datang pertama kali pada 1960-an yang hanya 5.000 orang. Hingga 1980-an, jumlah mereka telah mencapai 30 ribu orang.

Komunitas Muslim pun terbentuk dari para imigran Suriname dan Indonesia. Kemudian, dalam perkembangannya, datang para imigran asal Timur Tengah yang ikut meramaikan etnis Muslim di negara kerajaan tersebut. Mereka berasal dari Turki, Maroko, Tunisia dan negara Timur Tengah lain.

Saat ini, Muslimin Utrecht dapat berbaur dengan baik. Mereka membentuk komunitas, tapi bersosialisasi dengan masyarakat umum. Kehadiran mereka pun sedikit demi sedikit diterima meski sebagai kelompok minoritas. Mengutip dari RNW, kawasan tempat tinggal Muslim digambarkan sebagai tempat banyak imigran tinggal. Di sana banyak ditemui toko Turki ataupun Maroko yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Suasana Islam pun sangat kental.

Banyak pula masjid berdiri di Utrecht. Tak jelas berapa jumlah masjid di kota pusat keagamaan Belanda itu. Tapi, di seluruh negeri kincir angin saja ada sekitar 400 masjid berdiri. Beberapa masjid di Utrecht, antara lain, Masjid Abi Bakr Assadik, Masjid-ul-Aksa, Masjid Alfath, Masjid Assouna, Masjid Omer Alfarok, Masjid Sayidina Ibrahim, Masjid Ulu, Masdjied Anwar-E-Qoeba, dan masih banyak lain.

Di kota pelajar lokasi universitas terbesar Belanda Utrecht University tersebut, Muslimin bahkan boleh mengumandangkan azan. Hanya saja, azan boleh menggunakan pengeras suara saat hari siang saja. Tak hanya itu, pernah ada pula kabar bahwa masjid-masjid di Utrecht membuka pondok-pondok pesantren.

Muslim Utrecht juga aktif menyuarakan dakwah Islam. Mereka juga tak segan menentang hal yang bertentangan dengan syariat. Seperti kasus penutupan poster di jalanan yang menampilkan foto wanita berpakaian seronok. Isu yang mencuat tahun lalu itu makin menunjukkan eksistensi Muslimin di kota pusat budaya Belanda itu.

Selain itu, Muslimin juga memiliki wakil di dewan parlemen. Para politikus Muslim itulah yang terus membela kepentingan dan hak-hak minoritas Muslim. Mengingat, banyaknya hak Muslimin yang sering kali diabaikan pemerintah karena berasal dari kelompok minoritas. Kendati demikian, secara umum Pemerintah Belanda menghormati hak beragama. Apalagi, Belanda menganut paham pemisahan gereja dengan negara, yakni agama dipisahkan dari pemerintah. Hal tersebut pun berdampak baik sebagai penyanggah larangan beragama bagi Muslimin.
 
Komunitas Muslim Indonesia

Di Kota Utrecht, terdapat komunitas Muslim asal Indonesia yang sangat aktif mengadakan beragam kegiatan. Kehadiran mereka juga makin menambah warna komunitas Muslim Utrecht. Stichting Generasi Baru (SGB), demikian nama komunitas Muslim Indonesia tersebut.

SGB berbentuk sebuah yayasan yang terdiri atas komunitas Muslim Indonesia yang tinggal di Utrecht. Peran SGB bahkan menjadi Islamic Center di Utrecht. Mereka juga memiliki sebuah masjid yang menjadi pusat aktivitas keagamaan. Lokasinya berada di De Bazelstraat 31, Utrecht.

Banyak kegiatan yang dihelat SGB. Pesertanya pun bukan hanya Muslim Indonesia, melainkan juga Muslim Utrecht secara umum, bahkan kota-kota lain di Belanda. Salah satu event yang paling besar, yakni saat hari raya. SGB biasa menjadi tuan rumah perayaan Lebaran. Idul fitri tahun lalu, misalnya. SGB merayakan Lebaran bersama sekitar 180 Muslimin dari beragam etnis yang ada di Utrecht.