Ahad 23 Mar 2014 14:41 WIB

Raziyyaa al Din, Sultan Wanita Pertama dan Terakhir Delhi (1)

Seorang jamaah manula melakukan shalat sunnah di masjid peninggalan era Mughal, New Delhi, India,sebelum shalat Jumat berjamaah digelar
Foto: AP PHOTO/Altaf Qadri
Seorang jamaah manula melakukan shalat sunnah di masjid peninggalan era Mughal, New Delhi, India,sebelum shalat Jumat berjamaah digelar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ratna Ajeng Tejomukti

Sejak anak-anak, Raziyya telah disibukkan dengan urusan negara selama pemerintahan ayahnya.

Raziyya lahir di Budaun tahun 1205. Ia seorang wanita yang memimpin Kerajaan Delhi di India sejak 1236 hingga Mei 1240. Seperti putri Muslim lainnya saat itu, Raziyya dilatih untuk memimpin tentara dan mengelola kerajaan.

Sejak periode Mughal, Raziyya merupakan satu-satunya wanita penguasa kedua sebuah kesultanan secara penuh. Sedangkan wanita lain biasanya hanya berpengaruh di balik layar saja.

Raziyya menolak disebut sebagai sultana karena itu berarti istri atau nyonya sultan. Raziyya merupakan seorang ratu yang memiliki kemampuan sebanding dengan raja besar.

Raziyya naik tahta menggantikan ayahnya Shams ud-din Iltutmish memimpin Kesultanan Delhi pada 1236. Iltutmish merupakan raja yang pertama kali menunjuk putrinya sebagai pewaris tahta.

Namun bangsawan Muslim ketika itu masih mengganggap tabu bagi seorang wanita memimpin sebuah negara.

Sehingga saat Sultan Iltutmish wafat 29 April 1236, saudara laki-laki Raziyya, Rukn ud-din Firuz diangkat sebagai raja yang baru dan mengenyampingkan penunjukan Raziyya.

Pemerintahan Rukn ud-din tidak berjalan lama. Hal itu dikarenakan ibunya yang juga istri Iltutmish, Shah Turkaan hanya memanfaatkan harta dan kekuasaan suaminya untuk kepentingan pribadi. Mereka sering mengadakan pesta pora hingga menyebabkan kemarahan rakyat.

Pada tanggal 9 November 1236, Rukn ud-din dan ibunya dibunuh selang enam bulan dia berkuasa. Kaum bangsawan setuju dan mengizinkan Raziyya untuk memerintah sebagai Sultan Delhi.

Meskipun Raziyya seorang perempuan, tetapi gaya kepemimpinan dan kharismanya seperti pemimpin pria. Ia juga jarang bergaul dengan para wanita harem. Sehingga dia sangat minim sekali mengetahui adat istiadat seorang perempuan Delhi.

Sejak anak-anak, Raziyya memang telah disibukkan dengan urusan negara selama pemerintahan ayahnya. Dia pun tak segan-segan menaiki gajah untuk memimpin pasukannya dalam pertempuran.

Dia merupakan seorang politisi yang cerdas. Razia berhasil mengambil hati bangsawan, tentara dan rakyat untuk mendukung kepemimpinannya.

Dengan keahlian politiknya dia mampu mengalahkan pemberontak. Dia pun dinobatkan sebagai sultan paling kuat sepanjang kesultanan Delhi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement