Selasa, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 Februari 2018

Selasa, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 Februari 2018

Keyakinan Penduduk Kota Petra

Jumat 19 Mei 2017 19:00 WIB

Red: Agung Sasongko

 Kota Petra

Kota Petra

Foto: culturefocus.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jauh sebelum Islam menyebar di wilayah Yordania pada abad ke-7 M, penduduk Kota Petra awal adalah penyembah berhala. Dewa utama mereka adalah Dushara yang disembah dalam bentuk batu berwarna hitam dan berbentuk tak beraturan. Dushara disembah berdampingan dengan Allat Al-Uzza dan Manat.

Mereka pun mendewakan beberapa rajanya. Raja Obodas I merupakan salah satu yang mereka dewakan. Tak heran jika pada batu-batu yang ada di kota itu banyak patung terukir gambar dewa dan dewi yang biasa mereka sembah. Sebagai tempat ibadah, suku Nabatean membangun biara yang besar pada abad satu sebelum Masehi.

Biara itu dibangun untuk menghormati leluhur dan raja mereka yang telah dianggap menjadi dewa, yakni Obodas I. Hal itu sesuai dengan informasi yang tertulis di atas reruntuhan biara yang dalam bahasa Arab disebut dengan nama Ad-Deir.

Penduduk Kota Petra mulai menganut Kristen setelah agama itu masuk ke wilayah itu pada abad ke-4 M hampir sekitar 500 tahun setelah kota itu menjelma sebagai pusat perdagangan dunia. Menurut Athanasius, salah seorang uskup Petra yang terkenal pada zaman itu bernama Asterius. Di kota itu kemudian didirikan sebuah gereja.

Memasuki abad ke-7 M, tepatnya 629-632 M, Islam mulai menguasai wilayah Yordania, termasuk Kota Petra. Pada 661-750 M, Kota Petra berada di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah yang berbasis di Damaskus, Suriah. Pada masa itu, wilayah Yordania termasuk Petra hidup dalam kemakmuran. Sebab, wilayah itu terbilang masih dekat dengan pusat kekuasaan.

Kota Petra kembali jatuh ke tangan Kristen pada saat Perang Salib. Kota itu diduduki oleh Baldwin I dari Kerajaan Yerusalem. Kota itu tetap di tangan kaum Frank sampai 1189. Hal ini masih merupakan tituler melihat dari Gereja Katolik. Seorang penguasa Dinasti Mamluk bernama Sultan Baybar pada abad ke-13 M pernah mengunjungi kota itu.

Gempa bumi yang mengguncang wilayah itu membuat berbagai bangunan dan saluran air hancur. Sejak itulah, Kota Petra hilang dari peradaban dan menjadi kota yang hilang selama 500 tahun. Hingga akhirnya kembali dikenang sebagai warisan sebuah peradaban pada awal abad ke-19 M.

Disarikan dari Pusat Data Republika

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pemprov DKI Jakarta akan Tambah Jalur Sepeda

Selasa , 20 Februari 2018, 20:09 WIB