Jumat , 19 Mei 2017, 19:00 WIB

Keyakinan Penduduk Kota Petra

Red: Agung Sasongko
culturefocus.com
 Kota Petra
Kota Petra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jauh sebelum Islam menyebar di wilayah Yordania pada abad ke-7 M, penduduk Kota Petra awal adalah penyembah berhala. Dewa utama mereka adalah Dushara yang disembah dalam bentuk batu berwarna hitam dan berbentuk tak beraturan. Dushara disembah berdampingan dengan Allat Al-Uzza dan Manat.

Mereka pun mendewakan beberapa rajanya. Raja Obodas I merupakan salah satu yang mereka dewakan. Tak heran jika pada batu-batu yang ada di kota itu banyak patung terukir gambar dewa dan dewi yang biasa mereka sembah. Sebagai tempat ibadah, suku Nabatean membangun biara yang besar pada abad satu sebelum Masehi.

Biara itu dibangun untuk menghormati leluhur dan raja mereka yang telah dianggap menjadi dewa, yakni Obodas I. Hal itu sesuai dengan informasi yang tertulis di atas reruntuhan biara yang dalam bahasa Arab disebut dengan nama Ad-Deir.

Penduduk Kota Petra mulai menganut Kristen setelah agama itu masuk ke wilayah itu pada abad ke-4 M hampir sekitar 500 tahun setelah kota itu menjelma sebagai pusat perdagangan dunia. Menurut Athanasius, salah seorang uskup Petra yang terkenal pada zaman itu bernama Asterius. Di kota itu kemudian didirikan sebuah gereja.

Memasuki abad ke-7 M, tepatnya 629-632 M, Islam mulai menguasai wilayah Yordania, termasuk Kota Petra. Pada 661-750 M, Kota Petra berada di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah yang berbasis di Damaskus, Suriah. Pada masa itu, wilayah Yordania termasuk Petra hidup dalam kemakmuran. Sebab, wilayah itu terbilang masih dekat dengan pusat kekuasaan.

Kota Petra kembali jatuh ke tangan Kristen pada saat Perang Salib. Kota itu diduduki oleh Baldwin I dari Kerajaan Yerusalem. Kota itu tetap di tangan kaum Frank sampai 1189. Hal ini masih merupakan tituler melihat dari Gereja Katolik. Seorang penguasa Dinasti Mamluk bernama Sultan Baybar pada abad ke-13 M pernah mengunjungi kota itu.

Gempa bumi yang mengguncang wilayah itu membuat berbagai bangunan dan saluran air hancur. Sejak itulah, Kota Petra hilang dari peradaban dan menjadi kota yang hilang selama 500 tahun. Hingga akhirnya kembali dikenang sebagai warisan sebuah peradaban pada awal abad ke-19 M.

Disarikan dari Pusat Data Republika