Jumat , 21 April 2017, 17:30 WIB

Kebangkitan Dakwah Islam di Georgia

Red: Agung Sasongko
onislam.net
Muslim Georgia dalam mengisi bulan Ramadhan.
Muslim Georgia dalam mengisi bulan Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada abad ke-16 dan ke-17, Islam kembali merambah Georgia ketika Kerajaan Ottoman Turki dan Safavids Iran mengalami zaman keemasan. Pada saat Rusia menguasai Georgia pada abad ke-19, komunitas Islam di Georgia jumlahnya mencapai 20 persen dari total populasi yang ada.

Namun, pada sensus yang diadakan pada tahun 1989 dan 2002, jumlah pemeluk Islam di Georgia turun menjadi sekitar 12 persen atau sekitar 640 ribu jiwa. Mayoritas dari mereka menganut paham Sunni (mazhab Hanafi dan Syafii) dan Syiah.

Basis terkuat penganut Islam di Georgia berada di daerah otonom Ajaria dan Abkhazia, Meskhetia. Sampai dengan tahun 1770, mayoritas penduduk daerah otonom Ajaria adalah Kristen. Namun, ketika kekuasaan Imperium Ottoman Turki masuk ke Balkan pada abad ke-16 dan 17, kemudian puncak-puncaknya pada tahun 1820, penganut Islam mulai menyeruak di republik otonom tersebut.

Islam di Ajaria dan Abkhazia mengalami kemunduran pesat ketika Uni Soviet menguasai Georgia pada tahun 1860-an dan mencengkeramnya dengan ajaran komunis. Umat Islam di negara ini kemudian mengalami tekanan yang semakin menjadi-jadi setelah perang dunia kedua (PD II).

Selama di bawah kekuasaan Uni Soviet, undang-undang Islam (syariah) dihapus pada tahun 1926. Akibatnya, banyak praktik agama Islam yang ditinggalkan oleh generasi muda. Baik di Ajaria maupun Abkhazia, para pemeluk Islam mempraktikkan Islam sesuai dengan Mazhab Sunni.

Kini, setelah Uni Soviet bubar, Kristen merebut peluang untuk memurtadkan mereka. Banyak Muslim di Ajaria atau Abkhazia yang memeluk agama Kristen. Puncaknya, ketika Uni Soviet berkuasa di Georgia antara tahun 1866-1902, sebanyak 21.236 Muslim beralih ke Kristen.

Seperti kata Nestor Lakoba, sekretaris pertama Partai Komunis Abkhazia, pada dasarnya orang-orang Abkhazia adalah ateis dan tak mempunyai kepercayaan. Agama bagi mereka tak mempunyai arti.

Populasi Muslim di Ajaria dan Abkhazia berasal dari Turki yang masuk ke daerah tersebut pada abad ke-16. Pengaruh budaya Turki yang sangat kuat membuat mereka tidak mau menggunakan nama-nama Georgia bagi keluarga mereka karena nama-nama Georgia berarti Kristen. Akibatnya, selama perang dunia kedua, banyak warga Muslim keturunan Turki yang dideportasi ke negara asal. Jumlah mereka yang dideportasi saat itu sekitar 100 ribu orang dan mereka mulai kembali ke Georgia pada tahun 1969.

Repatriasi ini berlanjut sampai dengan tahun 1989, selanjutnya program repatriasi ini dikoordinasi oleh Pemerintah Georgia pada tahun 1994 melalui Kementerian Perumahan dan Penduduk.

Sedangkan, ditinjau dari etnis, banyak Muslim di Georgia berasal dari Turki, Azeri, Avar, Tatar, Kazakh, Uzbek, dan Tajik. Etnis-etnis inilah yang mewarnai kehidupan Muslimin di Georgia, di samping penduduk asli Georgia sendiri. Para komunitas Muslim ini mendiami daerah-daerah pedalaman, Tbilisi, bagian barat daya, dan timur laut.

Islam masih mempunyai pengaruh besar di daerah-daerah tersebut. Setidaknya, ada tujuh madrasah yang telah berdiri di Georgia. Beberapa di antaranya dibiayai oleh kelompok-kelompok Islam di Turki. Karena itu, orang-orang Georgia khawatir terhadap ideologi Islam dan pengaruh luar yang dapat menyebabkan kekerasan internal.

Berita Terkait