Jumat , 21 April 2017, 15:30 WIB

Hasil Kajian Antropologi Ilmuwan Muslim Bermanfaat Bagi Kafilah Dagang

Red: Agung Sasongko
saharamet.org
Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir
Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sumbangan lain dalam ranah antropologi terwujud melalui cendekiawan lainnya pada abad ke-10, yaitu al-Muqaddasi. Sosok bernama Shams al Din Abu Abd Allah Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Bakar al Banna al Shami al Muqaddasi ini banyak dikenal sebagai seorang ahli geografi dan pelancong pula. 

Pemikirannya yang secara signifikan berkaitan dengan antropologi tertulis dalam karyanya yang berjudul Ahsan al-Taqasim. Para sarjana Barat mengakui kehebatan dan kualitas karya tersebut dari segi pendekatan antropologi terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya.

Dalam karyanya itu, al-Muqaddasi melihat telaah antropologi secara lebih spesifik dan komprehensif, yang mencakup aspek ekonomi, sosial, kebiasaan, budaya, agama, politik, bahkan sains. Begitupun, ia lantas menghubungkannya dengan berbagai hal pada perspektif geografi atau kajian kewilayahan.

Penelitian al-Muqaddasi memberikan informasi dan data luar biasa mengenai suatu masyarakat di wilayah tertentu. Ia antara lain mengungkap perbedaan karakteristik masyarakat yang tinggal di sejumlah provinsi Islam dengan ragam kondisi geografis di wilayah tersebut. 

Setidaknya enam provinsi Islam, antara lain Maghribi, Mesir, Arabia, Sham, Irak, dan Aqur yang meliputi Jazira dan lembah Mesopotamia, berhasil dipetakan. Peta tersebut mengungkap karakteristik masyarakat, kegiatan perekonomian, budaya, bahasa, tradisi keagamaan, kekuatan politik, dan sekolah. 

Pada masanya, data-data itu sangat bermanfaat bagi para kafilah pedagang yang ingin berniaga ke suatu wilayah tertentu, atau penguasa pusat sebagai pertimbangan dalam menetapkan sebuah kebijakan. Pada masa berikutnya, informasi tadi bernilai sejarah tinggi untuk mengetahui kehidupan masyarakat masa lampau.