Kamis , 20 April 2017, 16:30 WIB

Jejak Komunitas Muslim di Panama

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
IST
Umat Muslim di Panama
Umat Muslim di Panama

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keberadaan Islam di Panama memiliki sejarah panjang dan unik. Karena, di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik ini, agama Islam pernah ada sejak abad ke-15 Masehi (1500-an).

Namun demikian, kehidupan keagamaan umat Islam di negara ini tak banyak terpublikasikan. Bahkan, komunitas umat Islam dan jejak sejarah Islam sempat dimusnahkan. Salah satu sumber mengenai masuknya Islam di Panama ditulis oleh Abdul Khabeer Muhammad, seorang juru dakwah yang giat menyebarkan Islam di Panama.

Dalam artikel yang dimuat di majalah Islam Canada, A Brief History of the Muslim in Panama, Abdul Khabeer Muhammad mencatat ada dua gelombang kedatangan penganut Muslim di negeri itu. Pertama, tahun 1552.

Pendatang Muslim menginjakkan kakinya di Panama sebagai budak yang dibawa penjajah Spanyol untuk dipekerjakan di tambang emas. Kedua, tahun 1904-1913, ketika serombongan Muslim asal Lebanon dan negara Timur Tengah lainnya datang sebagai pedagang ke Colon, sebuah kota di tepi lautan Atlantik.

Komunitas Muslim pertama tercatat mendiami wilayah yang sekarang menjadi bagian dari negara Republik Panama pada tahun 1552. Mereka adalah para budak Afrika dari suku Mandinka yang dibawa oleh orang-orang Spanyol untuk dipekerjakan di pertambangan emas.

Sebelum memerdekakan diri, wilayah Panama merupakan bagian dari wilayah koloni Spanyol. Pada masa itu, bangsa Spanyol membuat kebijakan untuk mendatangkan para budak ke wilayah jajahan mereka di kawasan Amerika Tengah saat ini.

Para budak dari suku Mandinka, yang keseluruhannya adalah Muslim, pertama kali tiba di wilayah Pantai Atlantik di Panama pada tahun 1552. Mereka tiba dalam jumlah cukup besar, yakni sekitar 500 orang.

Di wilayah baru ini, masyarakat Muslim suku Mandinka membangun sejumlah masjid, antara lain di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Darien, San Miguel, San Bals, dan kawasan di sepanjang Sungai Bayano. Mereka kemudian juga membentuk semacam dewan pemerintahan yang dikepalai oleh seorang Bayano. Bayano inilah yang menjadi pemimpin orang-orang suku Mandinka dalam melawan pihak penjajah.

Namun, setelah pasukan Bayano berhasil dikalahkan oleh tentara Spanyol pimpinan Komandan Pedro de Ursula, kelangsungan hidup masyarakat Muslim suku Mandinka mulai terusik.