Senin , 03 April 2017, 08:13 WIB

3 Masjid Bersejarah Medan

Rep: Marniati/ Red: Agung Sasongko
Antara/Irsan Mulyadi
Pekerja melakukan proses perbaikan salah satu atap Masjid Raya Al Mashun, Medan, Sumatera Utara, Selasa(29/3).
Pekerja melakukan proses perbaikan salah satu atap Masjid Raya Al Mashun, Medan, Sumatera Utara, Selasa(29/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada banyak catatan tengan sejarah dan perkembangan Islam masuk di wilayah Sumatra Utara. 

Catatan Marcopolo, petualang dari Italia, menyebutkan, selama persinggahannya di Aceh bagian utara pada 1292, ia telah mendapati sejumlah penduduk yang memeluk Islam. 

Sebelum kedatangan risalah ini yang dibawa oleh pedagang dan sejumlah dai dari Arab, masyarakat sebagian besarnya memeluk Hindu. Bukti lain jejak Islam di bumi Sumatra Utara adalah berdirinya masjid sebagai pusat pergerakan dan tempat ibadah umat Islam 

Abdul Baqir Zein, dalam karyanya yang berjudul Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia menjelaskan, masjid-masjid bersejarah yang penting diketahui khalayak, di antaranya sebagai berikut:   

Masjid Raya Al-Mashun Medan

Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid negara pada masa kejayaan Kesultanan Melayu Deli, yang pada saat ini masuk dalam wilayah Provinsi Sumatra Utara. 

Pembangunan masjid ini dimulai pada 1906 dan selesai pada 1909. Secara keseluruhan, biaya pembangunan masjid ditanggung sendiri oleh Sultan Mamun al-Rasyid Perkasa Alamsjah IX yang menjadi sultan ketika itu.  

Untuk membangun masjid yang indah dan megah itu, sultan terpaksa menggunakan arsitek dari Belanda, yaitu J.A Tingdeman. Lantai masjid ini terbuat dari marmer Italia dan lampu kristal gantung yang langsung didatangkan dari Prancis.

Saat ini, selain menjadi tempat ibadah kaum Muslim, masjid juga menjadi objek wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanengara.

Masjid Raya Labuhan Medan

Masjid ini didirikan pada 1824 oleh sultan Deli yang bernama Sultan Mahmud. Semula hanya berukuran 16 m x 16 m dan hampir semuanya terbuat dari kayu. Setelah 60 tahun kemudian atau pada 1884, masjid ini dipugar sekaligus dibangun secara permanen.

Ukurannya pun diperluas sehingga menjadi 26 m x 26 m dan dapat menampung 1.000 orang jamaah. Hal yang cukup unik, kubahnya dibuat dari tembaga.

Setelah dibangun permanen 1884, masjid ini telah tiga kali mengalami perbaikan. Pertama, 1927 oleh Deli Maatscapij, sebuah perusahaan kongsi antara kesultanan Deli dan Belanda. Kedua, 21 tahun setelah berdirinya 

Republik Indonesia, tepatnya pada 1996, masjid ini kembali direhab oleh wali kota Medan.

Hingga hari ini masyarakat masih dapat menyaksikan Masjid Raya Labuhan dengan arsitek campuran. Tiang-tiang dan serambinya mengingatkan kita pada arsitektur Kordoba pada zaman keemasan Islam di Andalusia, Spanyol. Sedangkan, kubahnya terbuat dari tembaga adalah khas bentuk kubah masjid di negeri-negeri Melayu.

Masjid Azizi Langkat

Masjid Azizi terletak di daerah Langkat, Tanjung Pura, Sumatra Utara, didirikan oleh Tengku Sultan Abdul Aziz bin Tengku Sultan Haji Musa al-Khalidy al-Muazhzham Syah, raja Langkat yang berkuasa antara 1862-1896. 

Namun, sebelum pembangunan masjid selesai, Sultan Abdul Aziz wafat. Lalu, pembangunan dilanjutkan oleh anaknya, Tengku Sultan Mahmud Rahmat Syah, pada 1936.

Masjid Azizi bercorak bangunan kuno merupakan kebanggaan penduduk Tanjung Pura. Dilihat dari bangunan, masjid ini memiliki perpaduan antara zaman Belanda, Jepang, dan Republik. 

 

Berita Terkait