Selasa 28 Mar 2017 19:55 WIB

Catatan Sejarah Diriyah

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Kota Tua Diriyah
Foto: Wikipedia
Kota Tua Diriyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama era Rasulullah SAW, Muhammad ibnu Maslamah melakukan sebuah ekspedisi di Diriyah pada bulan Muharam tahun 6 Hijiriyah (Juli 627 Masehi). Sebanyak 30 tentara yang dipimpin Muhammad ibnu Maslamah diberangkatkan dalam sebuah misi menuju tempat bermukim Banu Bakr.

Anggota Banu Bakr kemudian lari ke berbagai penjuru dan sejumlah pengacau ditahan. Pasukan ini lalu kembali dengan mem bawa kepala suku Banu Hanifa yang ber nama Thuma mah bin Uthal Al-Hanafi.

Ekspedisi itu diabadikan ilmuwan Muslim, Sa'd dalam sebuah bukunya. Da lam buku itu, Sa'd menulis, Muhammad ibnu Maslamah beserta pasukannya pergi pada 10 Muharram. Rasulullah SAW melepas pasukan ini untuk melawan al-Qurata yang berada di bawah Banu Bakr cabang Kilab. Pasukan ini sempat berhenti di al-Bakarat, sebuah tempat di Diriyah.

Meski Diriyah kadang diidentifikasi sebagai permukiman kuno, sejarah kota ini bisa ditelusuri pada sejarah abad 15. Berdasarkan catatan Nejd, Diriyah didiri kan pada 1446 atau 1147 M oleh Mani al- Mraydi, sebuah keluarga Kerajaan Saudi. Mani dan klannya datang ke al-Qatif di timur Arab setelah mendapat undangan dari Ibnu Dir' yang kala itu memimpin warga di tempat yang saat ini dikenal sebagai Riyadh.

Ibnu Dir' mengatakan, Mani al-Mray di merupakan sanak keluarga sehingga lebih baik bila Mani dan klannya meninggalkan wilayah Wadi Hanifa dan kembali ke tempat ia berasal.

Mani bersama klannya, yakni Mrudah yang mendiami Ghusaybah dan al-Mu laybeed akhirnya pindah ke kawasan Di riyah. Distrik Turaif dibangun kemudian. Setelah itu, orang-orang dari kota-kota di dekatnya pindah ke Diriyah. Pada abad 18, Diriyah jadi kota yang masyhur di Nejd. Diriyah menjadi tempat penting dalam rute perdagangan Saudi, menghubungkan semenanjung Arab dari barat ke timur, serta membantu pengawasan haji ke Makkah.

Pada saat itu pula, Muhammad ibnu Saud lahir dari sebuah keluarga. Ia dise but-sebut akan menjadi Al-Miqrin atau penerus Mani menjadi emir Diriyah. Pada 1744, Ibnu Saud mengangkat seorang mufti bernama Muhammad ibnu Abdul Wahhab yang berasal dari al-Uyaynah. Ibnu Saud juga setuju untuk menerapkan pandangan agama Ibnu Abdul Wahhab. Dari sanalah cikal bakal kemunculan pro vinsi pertama dengan Diriyah sebagai ibu kotanya.

Dalam beberapa dekade, Ibnu Saud dan keturunannya berhasil mengelola seluruh wilayah Nejd, wilayah timur dan barat Arab, dan sempat mengirim pasu kan ke Irak. Diriyah dengan cepat ber kem bang dan menjadi kota terbesar di Nejd dan jadi kota utama di Arab.

Penguasaan Saudi atas Makkah dan Madinah rupanya mengusik Kesultanan Turki Utsmani saat itu sehingga memicu Perang Turki Utsmani melawan Saudi pada 1811-1818 M. Invasi oleh pasukan Turki Utsmani dan Mesir pada akhir 1818 M mem buat Diriyah menjadi salah satu sasaran. Diriyah dikepung pasukan untuk waktu yang lama oleh pasukan Turki Utsmani yang dibantu pasukan Mesir. Pasukan Turki yang kala itu dipimpin Ibrahim Pasha memerintahkan Diriyah dihancurkan.

Ketika Saudi mencoba bangkit kem bali pada 1824 M, mereka membentuk ibu kota baru bernama Riyadh. Ibu kota ini bertahan hingga sekarang. Kesultanan Turki Utsmani melihat Arab sebagai tantangan apalagi setelah mereka tak bisa mengambil alih Makkah dan Madinah.

Pada 1818 M, pasukan Turki Utsmani memasuki Diriyah dan setelah enam bulan pengepungan, permu kiman dan taman serta kebun dihancur kan. Sebanyak 1.800 tentara Arab tewas dalam pengepungan itu.

Setelah 1818 M, warga asli Diriyah ter paksa meninggalkan kota mereka. Seba gian besar dari mereka pindah ke Riyadh. Penulis asal Inggris, Robery Lacey menu lis, al-Saud juga ikut meninggalkan Diri yah dengan membawa kenangan buruk. Lacey menggambarkan kondisi Diri yah saat itu laksana Kota Pompeii. Lebih ber untung dari Pompeii, Diriyah kembali ber penghuni pada akhir abad 20 yang mayoritasnya merupakan bangsa nomaden.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement