Selasa , 21 March 2017, 05:58 WIB

Muslim Peru Gencarkan Dakwah Islam

Red: Agung Sasongko
Tanpa memandang latar belakang agama, kaum miskin di Peru mendapat perhatian dari Muslimin setempat.
Tanpa memandang latar belakang agama, kaum miskin di Peru mendapat perhatian dari Muslimin setempat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penguatan peran umat Islam didukung konstitusi negara. Laman edu.gov menyebutkan, konstitusi Peru memberikan kebebasan beragama kepada warga negaranya. Tiap warga dijamin hak hidup dan beragama dan melarang tindakan diskriminasi dalam bentuk apa pun terhadap umat beragama. 

Negara juga membebaskan tiap penganut agama mendirikan tempat peribadatan. Umat Islam sendiri telah memiliki masjid pertama yang cukup representatif di Tacna. Masjid ini bernama Masjid Bab ul Islam. Demikian pula, di Lima terdapat masjid sebagai pusat peribadatan sekitar 400 umat Islam di sana.

Begitu pula dalam pendidikan keagamaan, negara mengizinkan pengelolaan sekolah agama bagi tiap komunitas agama. Terhadap siswa Muslim yang menempuh pendidikan di sekolah non-Muslim, mereka diberi kesempatan menyusun program pembelajaran agama sesuai kepercayaannya. 

Namun, ada ganjalan. Penganut agama minoritas, termasuk Islam, masih dikenakan pungutan pajak bagi kegiatan kerohanian. Misalnya, bantuan dari luar negeri, baik dari organisasi maupun negara asing, akan dikenakan pajak yang tidak sedikit. Ini berbeda perlakuan terhadap pemeluk Katolik. Kondisi itu karena Katolik merupakan agama terbesar, mencakup lebih dari 85 persen dari populasi penduduk. Gereja Katolik pun diakui ‘sebagai elemen penting dalam sejarah negara dan telah berperan dalam kehidupan masyarakat’.

Karena itulah, gereja kerap memperoleh kemudahan pajak. Selain itu, keistimewaan diberikan pada bidang pendidikan, tenaga kerja, pembangunan sarana ibadah, dan sebagainya. Namun, secara umum, hampir tidak ada permasalahan terkait kehidupan beragama kendati pernah muncul sikap curiga terhadap Islam setelah terjadinya peristiwa 11 September. 

Data di laman islamicbulletin mengungkapkan, terdapat sekitar 400 umat Muslim di ibu kota Lima, sebagian besar adalah imigran asal Palestina dan Syria. Mereka datang dan menetap di Peru demi memperoleh taraf kehidupan yang lebih baik. Alhamdulillah, mereka mendapatkan apa yang diharapkan. Sebagian pendatang kini menjadi pengusaha dan pedagang yang cukup berhasil. ‘’Mereka orang-orang yang hangat, terbuka, dan bersedia membantu sesama yang membutuhkan,’’ kata laman tersebut. 

Menurut penjelasan Isa, ketua pengurus Masjid Lima, beberapa tahun lalu, akibat kurangnya pembinaan keagamaan tidak sedikit umat Islam yang mengadopsi tradisi lokal. Hal ini dikhawatirkan bisa memengaruhi keimanan. Maka itu, tokoh dan pemuka agama Islam bertekad meningkatkan frekuensi pembinaan agama kepada umat. 

Penjelasan senada terdapat pada laman peruislam. Pembinaan rohani merupakan salah satu perhatian besar dari para tokoh Muslim setempat. Penguatan akidah adalah fokus kegiatan, demikian pula pendidikan agama terkait praktik peribadatan. Sementara pada tataran komunal, dakwah terus dilaksanakan. Kepada warga asli dan non-Muslim, dijelaskan mengenai nilai-nilai luhur agama Islam. Ini juga berkaitan dengan kesalahpahaman yang masih ada terhadap Islam. 

Hanya saja, tidak sedikit kendala yang dihadapi. Di antara yang paling mendesak, kata laman musulmanespruanos, yakni keterbatasan dana bagi aktivitas keagamaan di kalangan warga Muslim keturunan latin. 

Contoh nyata dari dampak kekurangan dana adalah ketika sebuah mushala di Lima terpaksa menghentikan kegiatannya pada 1993 silam. Demikian pula, mushala yang berada di kawasan Villa el Savador turut ditutup karena alasan yang sama. 

LAMU tidak berpangku tangan untuk mengatasi permasalahan itu. Organisasi keislaman ini berusaha membuka kembali mushala-mushala tadi agar menjadi tempat ibadah dan kegiatan bagi umat Muslim latin. Masalah ini tentu membutuhkan perhatian bersama.