Selasa , 21 March 2017, 05:51 WIB

Muslim Peru Aktif dalam Kegiatan Sosial

Red: Agung Sasongko
ihh.org
Muslim Peru saat berdoa usai saat jamaah di sebuah masjid.
Muslim Peru saat berdoa usai saat jamaah di sebuah masjid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Generasi baru umat Muslim akhirnya mengemuka pada 70-an. Mereka tidak lagi terlalu terafiliasi dengan negara asal. Generasi ini telah menganggap Peru sebagai identitas personal serta negara tumpah darah mereka.

Oleh karena itu, mereka menganggap sudah merupakan bagian dari masyarakat. Umat Islam memiliki perhatian maupun tanggung jawab yang sama untuk turut mengentaskan berbagai permasalahan di tengah masyarakat.

Ini menjadi fokus utama umat. Salah satu problema sosial yang membutuhkan penanganan adalah keberadaan anak telantar serta yatim piatu.  Saat ini, jumlah umat Islam di Peru sekitar 1.000 jiwa atau 0,02 persen dari populasi. Mereka aktif membina kegiatan rohani dan sosial yang diwadahi beberapa organisasi keagamaan.

Di antara organisasi tersebut, yakni Asociacion Islamica del Peru dan Musulmanes Peruanos of Naqshbandi Haqqani. Organisasi dan lembaga ini kerap membina kegiatan sosial keagamaan sekaligus menjalin hubungan dengan kalangan agama lain. Mereka pula yang aktif membina dan membantu anak telantar serta yatim piatu tadi. Sebagian anak-anak adalah korban penculikan dan diambil organ tubuhnya untuk dijual secara ilegal. 

Warga dan organisasi Muslim Peru kemudian bekerja sama dengan Latin Amerika Muslim Unity (LAMU), payung organisasi keislaman di kawasan itu, yang berkedudukan di Fresno, California, AS. LAMU kemudian mengorganisasi penggalangan dana bagi pembangunan panti sosial anak yang dikelola umat Muslim setempat.

Aktivitas keagamaan juga gencar dilakukan. LAMU memberikan bantuan bagi kepentingan syiar Islam di Peru. Alhasil, geliat dakwah dan pengajaran agama sudah merambah hingga ke pedesaan.

Umat sangat antusias mengikuti pendidikan keagamaan kendati berada di kawasan terpencil di pegunungan. Mereka juga terus membantu warga Indian setempat terkait masalah kesejahteraan sekaligus menyebarkan syiar kepada mereka. Sementara itu, di ibu kota Lima gerakan sosial yang sama tidak mengendur. Dengan sumber daya yang dimiliki, umat Islam berkontribusi membantu warga miskin dengan tidak membeda-bedakan latar belakang etnis, budaya, maupun agama.

Lokasi-lokasi komunitas warga Muslim, demikian juga masjid, menjadi pusat kegiatan sosial. Untuk membangkitkan kepedulian dan partisipasi segenap umat, mereka telah membangun sarana komunikasi lewat internet.