Selasa , 21 March 2017, 04:13 WIB

Megahnya Masjid Al-Faruq 'Umar Ibn Al-Khattab Dubai

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
alldubai.ae
Masjid Al-Faroouq, Dubai.
Masjid Al-Faroouq, Dubai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Uni Emirat Arab (UEA) merupakan negara modern di kawasan Teluk Persia. Kerajaan ini cukup makmur lantaran memiliki cadangan minyak bumi terbesar ketujuh di dunia. Dalam sejarahnya, Presiden pertama UEA Syeikh Zayed mengalokasikan pemasukan dari komoditas tersebut untuk memacu pengembangan infrastruktur. Termasuk di antaranya rumah-rumah ibadah.

Masjid al-Faruq 'Umar ibn al-Khattab berada di Dubai. Bangunan yang dapat menampung hingga dua ribu jamaah ini merupakan salah satu masjid terbesar di UEA.

Seperti bisa dilihat dari namanya, masjid ini antara lain untuk mengenang sosok 'Umar ibn al-Khattab. Sahabat Nabi Muhammad SAW yang bergelar al-Faruq itu merupakan khalifah kedua setelah Abu Bakar. Gelar al-Faruq bermakna figur yang mampu memilah dan memilih kebenaran daripada kebatilan.

Kompleks Masjid al-Faruq 'Umar ibn al-Khattab mencakup lahan seluas kira-kira 8.600 meter persegi. Pada mulanya, masjid ini dibangun di atas kompleks rumah ibadah yang sudah berdiri sebelumnya sejak 1986.

Masjid al-Faruq 'Umar ibn al-Khattab telah mengalami renovasi dua kali, yakni pada 2003 dan 2011. Di antara yang paling berjasa adalah filantrop sekaligus salah seorang terkaya di dunia, Khalaf Ahmad Al Habtoor. Pada 29 Juli 2011, renovasi teranyar selesai dengan sempurna. Masjid itu pun kembali dibuka untuk publik.

Seperti dilansir dari situs resminya, AlFarooqCentre.com, masjid ini merupakan salah satu puncak pencapaian seni arsitektur di UEA. Pihak pembangun Masjid al-Faruq 'Umar ibn al-Khattab menuturkan, masjid ini terinspirasi dari gaya arsitektur Masjid Biru yang terletak di Istanbul, Turki.

Selain itu, Masjid al-Faruq 'Umar ibn al-Khattab juga terpengaruh nuansa masjid-masjid pada masa kejayaan Islam di Andalusia dan Maroko. Hal ini tampak jelas pada interior masjid.

Di dalamnya, jamaah seakan-akan berada di empat tempat sekaligus: Turki, Spanyol, Maroko, dan tentu saja UEA. Tampaknya, pihak pembangun Masjid al-Faruq 'Umar ibn al-Khattab hendak memadukan puncak-puncak kesenian bangunan Islam di masjid ini.

Tembok Masjid al-Faruq 'Umar ibn al-Khattab didominasi warna krem. Pada pinggiran dindingnya, terdapat ukiran kaligrafi berwarna biru serta pola-pola geometris yang biasa dijumpai di masjid-masjid bergaya Andalusia.

Demikian pula, dengan langit-langitnya yang menampilkan pola-pola geometris bintang dan kaligrafi ayat-ayat suci Alquran. Lengkung di sekitar kubah di interior masjid berwarna selang-seling merah-putih.

Hal ini mengingatkan kita pada masjid-masjid terkenal di Kordoba, Spanyol. Lampu kristal yang indah menggantung tepat di bawah kubah utama setinggi 30 meter.

Permadani berwarna merah buatan Jerman tampak kontras, tetapi berpadu dengan cantik dengan warna krem pada dinding. Ruang utama dipakai untuk jamaah shalat sehari-hari.

Ruangan ini memiliki luas 1.500 meter persegi, sehingga mampu menampung 1.800 jamaah pria dan wanita. Bentuknya persegi dan di tengah-tengahnya terdapat empat pilar yang menyangga kubah utama.

Kaligrafi ayat-ayat suci Alquran dan pola-pola geometris terpampang pada dinding. Dibutuhkan 60 ahli ukir dari Maroko untuk membuat kaligrafi nan indah itu.

Perlu waktu dua bulan untuk menyelesaikan desain masjid ini. Totalnya 10 bulan untuk benar-benar mewujudkan nuansa seni Islami di masjid tersebut.