Kamis 23 Feb 2017 16:00 WIB

Di Suriname, Islam Berkembang Pesat

Rep: Yusuf Assidiq/ Red: Agung Sasongko
Pengunjung mengamati karya foto di Pameran Foto Java To Suriname di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (22/9). (Republika/Edwin Dwi Putranto)
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Pengunjung mengamati karya foto di Pameran Foto Java To Suriname di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (22/9). (Republika/Edwin Dwi Putranto)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Dengan keragaman seperti itu, tak salah jika Suriname dikenal sebagai salah satu negara multietnis terbesar di Amerika Selatan. Namun, kondisi itu tidak menciptakan perpecahan.

Bayangkan, di sana terdapat banyak kelompok etnis ataupun agama, seperti Hindu, Kristen, Islam, Afrika, Arab, Cina, India, Pakistan, Indonesia, Yahudi, Indian, dan Belanda. Di tengah pluralisme itu, hubungan yang terjalin berlangsung cukup baik dan akrab.

''Tak ada penganut agama di Suriname yang punya masalah dengan penganut agama lain,'' papar Guido Robles, seorang pengusaha di Paramaribo. ''Bila pun ada persoalan, itu lebih disebabkan ulah politisi.''

Carlo K Dwarka Panday, manajer Hotel Krasnapolsky Paramaribo, sependapat. Menurutnya, berbeda di negara lain, misalnya di India yang kerap terjadi pertikaian antara penganut Hindu dan Islam. Hal itu tidak demikian di negara ini.

''Kami di sini hidup rukun. Saat Idul Fitri, umat Hindu datang ke masjid dan mengucapkan selamat dan merayakan hari raya dengan umat Muslim,'' dia menambahkan.

Pun, ketika tiba hari Phagwa, festival warna dalam agama Hindu, umat Muslim turut bergembira. Demikian juga pada waktu hari Natal, segenap umat beragama ikut mengucapkan selamat.

Bentuk toleransi yang lain dapat dilihat di pusat Kota Paramaribo. Masjid Anjumann Ishaat Islam berdiri berdampingan dengan sebuah sinagog Yahudi dan selama ini tidak pernah ada pertikaian di antara kedua penganut agama.

Seiring dengan itu, agama Islam berkembang pesat. Seperti dikemukakan Dr Isaac Jamaluddin, ketua Majelis Muslimin Suriname, salah satu organisasi Islam terbesar di Suriname, warga Muslim tidak kendur, bahkan semakin antusias mempelajari ajaran agama. ''Itu sudah berlangsung sejak dua dekade terakhir,'' katanya.

Meski begitu, mereka masih menemui kendala. Pengajaran agama Islam terbentur oleh keterbatasan tenaga pengajar serta material yang diperlukan, seperti buku-buku agama.

Kedua problem ini belum sepenuhnya teratasi, mengingat dana yang juga terbatas. ''Tidak seperti umat lain, mayoritas umat Islam berasal dari kelas menengah bawah. Sehingga, terkadang, kami kesulitan memenuhi keperluan untuk pengajaran agama ini,'' ujar Jamaluddin.

Oleh karena itu, dia mengharapkan bantuan dari lembaga serta negara Islam di dunia, terutama dalam penyediaan tenaga guru agama dan material pengajaran tadi.

Jamaluddin meminta masalah ini menjadi perhatian bersama. Terlebih, mengingat, selama ini umat agama lain, yakni Kristen dan Hindu, banyak mendapat dukungan dari Belanda, Amerika, serta India.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement