Rabu 18 Jan 2017 16:30 WIB

Gerabah, Komoditas Unggulan Granada

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Produk gerabah Granada di Era Kejayaan Islam.
Foto: ceramicstoday.com
Produk gerabah Granada di Era Kejayaan Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Granada pernah jadi kota perdagangan yang sibuk di era kekhalifahan Islam. Kota di Andalusia ini melayani transaksi jual beli dari timur dan utara Afrika, terutama Maroko. Gerabah adalah salah  satu komoditas kondang di sana pada abad 14-15.

Ada  gerabah artistik yang disebut gerabah emas karena  gerabah ini dicat dengan cat metalik mengkilat. Gerabah  emas yang digunakan sebagai pajangan punya nilai  filosofis ketimbang gerabah yang digunakan sehari-hari.

Meski masa berganti, Granada tak bisa disingkirkan dalam  catatan sejarah sebagai salah satu pusat karya seni dan kreativitas yang membanggakan umat Islam hingga hari ini. Dedikasi ini merambat ke semua karya seni,  termasuk kerajinan gerabah.

Banyak yang tahu Istana Alhambra, istana dengan taman-taman nan  indah. Sayangnya, tak banyak yang tahu Jun, kota kecil di utara Alhambra. Dalam buku Andalusia's New Golden Pottery, Tor Eigland sempat menceritakan Jun's Pavilion Arts, sebuah museum yang ada di kota kecil itu.

Memasuki museum ini, akan ditemui  rak-rak di dinding dan lantai yang dimeriahkan ratusan vas, toples, teko, piring, lampu minyak, dan catur dari keramik, berukuran besar hingga kecil. Barang-barang itu berbentuk  menarik, berhias lukisan geometris, flora, atau kaligrafi.

Inilah peninggalan Dinasti Nasriyah, dinasti Islam terakhir pada abad 14-15 yang bertahan di  Spanyol, saat seni di selatan Spanyol sangat berkembang dalam tingkat yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Mereka yang tertarik pada sejarah Andalusia akan takjub, antara tidak percaya dan bahagia melihat koleksi ini. Meski mayoritasnya adalah  perabotan sehari-hari, barang-barang ini mulai hilang dari Spanyol setelah 1429 seiring pengusiran Muslim dari Spanyol menyusul penaklukan Granada.

Perabot keramik dengan warna metalik berkilau disebut  loza dorada (gerabah emas). Warna emas atau perak dicampur pewarna hijau nampak jamak. Sejarah mencatat, gerabah emas ini pertama kali dibuat pada awal abad sembilan di Irak.

Para seniman Samarra di dekat Sungai Trigris kemudian memproduksi gerabah emas ini dalam  jumlah besar untuk istana-istana Dinasti Abbasiyah yang terbentang dari India hingga Spanyol. Dua abad kemudian, teknik ini sampai juga ke Andalusia. Para seniman Andalusia kemudian melakukan pemutakhiran yang menghasilkan karya yang amat cantik di periode Alhambra.

Awalnya, gerabah emas dibuat dengan menggunakan emas, perak, platina, timah, dan tembaga. Tiap logam ini menghasilkan warna sendiri saat proses pembakaran dan hasil akhir. Teknik  baru kemudian berkembang, para seniman gerabah  menggunakan metaloksida yang dipulaskan pada bagian yang diinginkan pada gerabah menggunakan kuas. Dengan  teknik yang berbeda tipis ini dihasilkan gerabah dengan sentuhan warna  metalik.

Teknik seni gerabah Alhambra bisa dibilang sangat gaya  dan kemungkinan adalah warisan Bangsa Moor. Warna  yang muncul pada gerabah merepresentasikan elemen semesta, yakni bumi, air, api, dan waktu. Proses pembakaran gerabah emas pun bisa lebih dari sekali. Pada pewarnaan yang kompleks, setidaknya butuh enam kali  pembakaran.

Beberapa gerabah emas yang dibuat pada lima abad terakhir berhasil diselamatkan. Salah satunya adalah Vas  Alhambra atau Vas Gazel yang replikanya ada di Jun's Pavilion of the Arts.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement