Ahad 01 Mar 2015 01:44 WIB

Menelusuri Kontak antara Manusia dan Jin Zaman Pra-Islam (1)

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Indah Wulandari
Sihir
Sihir

REPUBLIKA.CO.ID, QATAR -- Kontak antara manusia dan makhluk gaib (sebangsa jin) telah berlangsung sejak peradaban kuno. Kegiatan tersebut kebanyakan berkaitan dengan perdukunan, sihir, dan peramalan nasib manusia.

Menurut catatan sejarah, sihir dan perdukunan telah menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat Mesir kuno. Bahkan, praktik semacam itu masih terus berlangsung di negeri piramida hingga awal abad ketiga Masehi.

Teolog Kristen yang hidup antara 150-215, Clement dari Iskandariah, bahkan menyebut Mesir sebagai ‘pusatnya para tukang sihir’.

Pakar mistisisme dari Universitas Georgetown Qatar, Amira el-Zein menuturkan, para dukun dan tukang sihir Mesir kerap terlibat dalam berbagai proses penyembuhan. Dalam ritualnya, tidak jarang mereka melakukan komunikasi dengan makhluk-makhluk metafisis yang mereka anggap sebagai ‘dewa penyelamat’. 

“Beberapa makhluk metafisis yang dianggap sebagai pelindung tersebut adalah dewa Bes dan manusia berkepala banteng. Dewa Bes sering digambarkan memiliki wajah jelek untuk mengusir kekuatan jahat dalam tubuh manusia,” ungkap el-Zein dalam bukunya, Islam, Arabs, and the Intelligent World of the Jinn

Untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib tersebut, para tukang sihir Mesir kuno menggunakan semacam mantra, jampi-jampi, atau nyanyian.

Selain itu, mereka juga merajah atau menggambar beraneka ragam jimat pada gulungan papirus dan dinding-dinding kuil raksasa—yang dimaksudkan untuk menangkal berbagai gangguan dari makhluk-makhluk berbahaya.

Dukun dan tukang sihir begitu dihormati oleh orang-orang Mesir kuno. Mereka sering bekerja bahu-membahu dengan para pendeta (pemuka agama) dan dokter resmi yang ada di negeri itu. Dalam proses penyembuhan pasien, ramuan obat umumnya juga diberi mantra-mantra khusus.

“Karenanya, tidak diragukan lagi bahwa ilmu sihir dan obat-obatan melengkapi keterampilan para dokter pada zaman Mesir kuno,” tutur pakar Mesir dari Universitas Oxford, Geraldine Harris Pinch.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement