Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Perjalanan Musafir

Sabtu 12 May 2018 18:44 WIB

Red: Agung Sasongko

Hijrah

Hijrah

Foto: Republika/Agung Supriyanto
kenikmatan hidup di dunia yang bersifat sementara

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: SIGIT INDRIJONO 

 

''Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.'' (QS Yunus [10]: 7-8).

Ayat di atas merupakan peringatan dari Allah SWT bahwa rasa puas dan tenteram atas hasil yang diperoleh dalam kehidupan dunia yang hedonistik akan berujung pada kehidupan akhirat yang bertolak belakang. Yakni, memperoleh tempat di neraka, sebagai seburuk-buruk tempat kembali.

Namun, kenikmatan hidup di dunia yang bersifat sementara jangan dilupakan karena sebagai sasaran antara untuk mencapai tujuan utama kehidupan, yaitu kehidupan akhirat. Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi jangan kamu lupakan bagianmu di dunia. (QS al-Qashash [28]: 77).

Sebaliknya, bagi yang lalai, kenikmatan dunia menjadi tujuan hidup. Kesenangan tersebut telah memperdayakan mereka. Mereka lalai terhadap kehidupan hakiki yang seharusnya menjadi tujuan utama, yakni kehidupan akhirat. ''Tetapi, kamu memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.'' (QS al- A'laa [87]: 16-17).

Allah SWT memberikan perbandingan yang jelas antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia merupakan senda gurau dan main-main, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang hakiki. ''Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.'' (QS al-Ankabuut [29]: 64).

Rasulullah SAW bersabda, Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir. (HR Bukhari). Sebagai orang asing atau musafir yang sedang berada di suatu tempat, tentu mema hami bahwa ini hanya persinggahan sebentar dan sementara. Berbagai kenyamanan di tempat tersebut tidak akan akan membuat terlena dan melupakan tujuan akhir dari perjalanan.

Hakikat hidup kita di dunia adalah seperti orang asing atau musafir. Datang ke dunia sesaat saja, kemudian akan pergi meninggalkannya dengan mengalami kematian. Kematian adalah suatu kepastian dan akan dialami oleh setiap orang.Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya dan lupa kematian.

Rasulullah SAW bersabda, Orang yang paling cerdas adalah orang paling banyak mengingat mati dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kematian itu. (HR Ibnu Majah dan Thabrani). Memperbanyak zikrul maut dapat menghalangi untuk berbuat maksiat dan mendorong untuk selalu berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. Wallahu a'lam.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES