Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sukses Ala Surah Quraisy

Selasa 10 April 2018 01:16 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Foto: saharamet.org
Ada lima kunci sukses yang terkandung di dalamnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasan Basri Tanjung

Satu lagi hikmah yang didapat pada Seminar Nasional Pendidikan Islam di Kampus IUQI Bogor sebulan lalu, yakni sukses ala surah Quraisy. Surah ini menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk meraih kejayaan dunia dan akhirat. Sejatinya ayat Alquran bagai mutiara yang memancarkan cahaya dan makna berbeda bagi orang yang memandangnya.

Adalah Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Mahmud, yang menggali hakikat ayat ini. "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan" (QS 106:1-4).

Ada lima kunci sukses yang terkandung di dalamnya. Pertama, li iilaa fi, yakni membangun kebiasaan. Kaum Quraisy suka bepergian. Jika ingin berjaya, pelajari kebiasaan mereka. Seperti sukses Nabi Muhammad SAW, baca Sirah Nabawiyah. Para Imam Mujtahid pun punya kebiasaan shalat Tahajud, tilawah Alquran, dan menulis (QS 25: 63-64).

Karya Stephen R Covey, Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif, pun merangkum kebiasaan orang hebat. Mulanya kita membuat kebiasaan, tapi kemudian kebiasaan itu yang membentuk kita. Kedua, Quraisy, yakni membangun citra positif. Sebelum Nabi SAW diutus, citra Quraisy sudah baik di kabilah Arab. Selain berasal dari keturunan Nabi Ibrahim AS, mereka juga dikenal akan kepandaian berdagang dan melayani jamaah haji ke Baitullah. Membangun citra yang baik butuh waktu lama, tapi merusaknya hanya sekejap saja. Jika ingin sukses, bangunlah citra yang baik dengan keikhlasan, kesungguhan dan kesabaran, bukan untuk pencitraan (QS 29: 69).

Ketiga, rihlah, yakni semangat bepergian. Dalam Tafsir Jaami'ul Bayan, Ibnu Jarir ath-Thabari mengatakan, orang Qurasiy suka bepergian pada musim dingin dan panas. Citra positif tersebut terbangun dari jaringan bisnis ke negeri Syam dan Yaman. Kata pepatah Melayu, "Lama hidup banyak dirasa, jauh berjalan banyak dilihat, pandai bergaul banyak sahabat". Lihatlah kemajuan negeri lain sebagai perbandingan dan temukan hal baru sebagai inspirasi dan motivasi (QS 3:137).

Keempat, asy-syita wa ash-shaif yakni kecerdasan membaca situasi. Tidak banyak orang yang mau merantau karena berbagai kesulitan akan ditemui. Sensitivitas terhadap fenomena alam dan sosial sangat diperlukan. Seperti pada musim dingin, orang Quraisy pergi ke Yaman dan musim panas ke Syam. Keilmuan, wawasan, dan keraifan dibutuhkan dalam bermasyarakat. "Man 'alima lughota qoumin, salima 'an makrihim" (siapa yang paham bahasa suatu kaum, maka ia selamat dari keburukan mereka).

Kelima, fal ya'buduu, yakni berorientasi ibadah. Kaum Quraisy dahulu diberi kenikmatan seperti terhindar dari kelaparan dan ketakutan. Karena itu, sepatutnya mereka menerima risalah Nabi Muhammad SAW. Segala pencapaian yang diraih harus berorientasi pengabdian kepada Allah SWT. Tidak bermakna pencapaian, jika spiritualitas tidak meningkat. Keberhasilan baru bernilai ketika kita semakin dekat kepada Pemilik Ka'bah dengan penuh kesyukuran (QS 2:172).

Orang-orang berjaya sepanjang masa selalu mewariskan kebiasaan baik agar kita mengikutinya. Manakala meraih kejayaan, jangan sampai lupa bersujud dan bersyukur kepada Allah SWT. Menyantuni anak yatim dan orang miskin serta ikhlas menjadi jembatan bagi kesuksesan mereka. Allahu a'lam bishawab.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES