Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Guru Inspiratif

Jumat 02 February 2018 14:12 WIB

Red: Agung Sasongko

Guru mengajar di kelas. (Ilustrasi)

Guru mengajar di kelas. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
Jawaban seorang guru bervisi, tak ada ambisi pribadi.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asep Sapaat

Sejarah adalah yang terjadi pada masa lalu. Namun, apa yang terjadi pada masa lampau bisa menjadi pelajaran untuk sekarang dan masa depan. Salah satu pelajaran hidup pada masa lalu ada pada sosok guru kehidupan saya, almarhumah Een Sukaesih.

Wanita kelahiran 10 Agustus 1963 silam ini merupakan figur guru yang istimewa. Lebih dari 22 tahun, Bu Een hanya bisa terbaring di tempat tidur karena penyakit rheumatoid arthritis. Meski demikian, jiwa pengabdian sebagai guru tak pernah padam. Dalam kondisi fisik yang terbatas, Bu Een terus bersemangat menularkan ilmu kepada murid-muridnya. Tak jarang, bekal tambahan pelajaran dari Bu Een berhasil mengantar anak-anak binaannya meraih prestasi di sekolahnya. Ada beberapa hikmah kehidupan yang bisa direguk dari kehidupan Bu Een.

Pertama, beliau sangat ikhlas menerima ujian penyakit yang dideritanya. Ikhlas menerima, sesuatu yang mudah diucapkan, tapi sulit untuk diamalkan. Sikap ikhlas Bu Een membuat beliau bisa bertahan menjalani hidup. Tak ada pancaran rasa kecewa dengan kondisi yang menimpa dirinya. Bu Een mengembalikan segala sesuatunya kepada keputusan Allah, hatinya tenang dan rasa kecewanya hilang. Inilah tandatanda orang yang berserah diri (QS al- Anfal: 2).

Kedua, ketakwaan seorang hamba Allah. Bu Een pernah berujar, "Iman kepada Allah yang membuat saya bisa bertahan". Cara berpikir dan keyakinan diri untuk menggantungkan hidup semata kepada Allah membuat Bu Een tetap mampu mengajar meski dalam kondisi sakit. Kita bisa belajar dari Bu Een tentang misi hidup menjadi guru. Karena merasa dirinya adalah bagian dari masyarakat, Bu Een terus berusaha menularkan ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat. Mengajar dan mendidik anak-anak menjadi pilihan jalan hidupnya. Dalam kondisi sakit yang dihadapinya, Bu Een mampu bersabar dan mensyukuri segala kekurangan dirinya. Kualitas keimanan dan ketakwaan Bu Een sangat teruji. Perilaku hidupnya mencerminkan sikap orang bertakwa (QS al-Baqarah: 177).

Ketiga, sadar posisi untuk menjadi jalan kebaikan bagi murid. Sebelum beliau wafat, saya bersyukur sempat berjumpa dengan Bu Een. Setiap kata-katanya berhikmah. Cermin orang dengan jiwa yang tulus dan suci. Saya ingat, beliau dengan penuh semangat berkisah ikhwal pertemuannya dengan mantan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Saat ditanya Pak SBY, "Apa hadiah yang bisa kami berikan untuk Bu Een?" Jawaban Bu Een lugas, "Cita-cita saya ingin naik haji.

Namun, saya sadar hal itu akan merepotkan banyak pihak karena kondisi fisik saya. Oleh karena itu, saya cukupkan cita-cita saya sampai di sini. Saya hanya minta satu hal, tolong Bapak bantu muridmurid saya agar bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi."

Jawaban seorang guru bervisi. Tak ada ambisi pribadi. Yang terjadi, semua hal terbaik yang dimiliki diberikan sebagai jalan keberhasilan bagi murid-muridnya. Karena sejatinya, puncak kesadaran tertinggi seorang guru adalah kerelaan berkorban untuk kepentingan murid, masyarakat, dan bangsa.

Bu Een telah pergi meninggalkan kita. Namun, kenangan dan inspirasi keteladanannya akan terus hidup di pikiran dan hati para guru Indonesia. Semoga segala amal baik dan pengorbanan hidup Bu Een sebagai guru menjadi investasi terbaik bagi beliau untuk kehidupan akhiratnya kelak. Firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah membeli dari orangorang Mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS at-Taubah: 111). Wallahu alam bishawab.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES