Sabtu , 06 January 2018, 02:00 WIB

Enam Perkara Menuju Surga

Red: Agus Yulianto
 Seorang jamaah haji melempar jumrah, yakni melempar batu pada pilar yang melambangkan setan di Mina dekat kota suci Makkah, Jumat (26/10). (Hassan Ammar/AP)
Seorang jamaah haji melempar jumrah, yakni melempar batu pada pilar yang melambangkan setan di Mina dekat kota suci Makkah, Jumat (26/10). (Hassan Ammar/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi

Siapa pun di dunia ini tentu tidak ada yang ingin hidup menderita, tersiksa, apalagi diazab di dalam neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Sekalipun demikian, tidak sedikit manusia yang sepanjang hidupnya justru aktif, senang, bahkan suka rela meniti jalan menuju neraka.

Semua itu tidak lepas dari kebanyakan manusia yang kurang memperhatikan bagaimana menghindar dari tipuan dunia yang menggoda hawa nafsu agar selamat hidup di dunia dan di akhirat.

Ada manusia yang sejak mengenal dunia pekerjaan, ia habiskan seluruh hidupnya untuk bekerja sampai lupa ibadah, lupa sedekah, dan salah arah dalam meniti hidup. Semestinya menaati Allah, malah menentang-Nya baik sadar maupun tanpa sadar.

Ada manusia yang seumur hidupnya terkuras tenaga dan waktunya untuk membayar utang. Terobsesi hidup kaya membuatnya berpikir sempit bahwa hidup di zaman sekarang tidak mungkin lepas dari utang. Utang pun ia jadikan gaya hidup. Bahkan, ada yang hidup dengan menipu dan korupsi.

Semua itu terjadi karena manusia lupa, tidak tahu, ataupun tidak peduli dengan kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga perilaku hidup mereka sangat individualistis, bagaimana sekadar survive tanpa pernah mau tahu bagaimana menjadi pribadi bermanfaat yang terus menghadirkan maslahat.

Tentu saja kita tidak ingin seperti itu dan masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Lantas, bagaimana caranya dan apa saja yang mesti kita lakukan? Sayidina Ali bin Abi Thalib memberikan petunjuk jalan menuju surga dengan enam perkara.

“Barang siapa mengumpulkan padanya enam perkara, niscaya ia tidak meninggalkan usaha mencari surga dan lari dari neraka. Pertama, ia mengenal Allah lalu menaati-Nya. Kedua, ia mengenal setan, lalu mendurhakainya. Ketiga, ia mengenal kebenaran, lalu mengikutinya. Keempat, ia mengenal yang batil, lalu menjaga diri daripadanya. Kelima, ia mengenal dunia lalu menolaknya. Keenam, ia mengenal akhirat, lalu mencarinya.”

Ungkapan khalifah keempat kaum Muslimin itu menunjukkan bahwa dalam hidup ini jika seorang Muslim mengenal (makrifat) siapa Allah, siapa setan, apa kebenaran, apa kebatilan, apa dunia, dan apa akhirat, tentu akan terarah dan selamatlah kehidupannya.

Namun, jika sama sekali tidak dipahaminya, boleh jadi lisan mengaku beriman, tetapi perbuatan justru menjalankan amalan-amalan setan. Yang dianggapnya benar justru kebatilan dan yang dinilainya kebatilan malah kebenaran.

Pada akhirnya ia tidak tahu kapan mesti berbicara lantang dan kapan seharusnya diam. Pada saatnya menyuarakan kebenaran ia malah membisu. Pada saatnya ia mendengar kebenaran, ia malah memekakkan telinganya, akhirnya ia tidak mampu berpikir baik barang sedikit pun.

Terhadap manusia yang demikian, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun” (QS al-Anfal [8]: 22).

Oleh karena itu, perhatikanlah dengan cermat enam perkara tersebut. Sebab itu adalah gerbang utama menuju surga.