Kamis , 07 December 2017, 12:01 WIB

Khusyuk dalam Shalat

Red: Agung Sasongko
Republika/Tahta Aidilla
 Shalat sunnah (ilustrasi)
Shalat sunnah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Faisal Baaras

Apabila sudah mampu merasakan nikmatnya shalat, itu berarti sudah sampai pada makamnya shalat khusyuk. Sesungguhnya, shalat khusyuk adalah manifestasi dari meningkatnya persepsi Ilahiyah seseorang yang sudah merasakan nikmatnya shalat itu.

Shalat pada hakikatnya hanya terdiri dari dua hal, yaitu pengakuan dan permohonan—pengakuan kita tentang keesaan Allah dan permohonan kita yang ditujukan hanya kepada-Nya untuk kemaslahatan kita di dunia dan akhirat nanti.

Shalat adalah berdialog dan mengadu kepada Allah—yang secara khusus telah ditetapkan-Nya, ketika Nabi Muhammad menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. Oleh karena itu, ruh shalat kita hendaknya seperti isra dan mikrajnya Nabi Muhammad waktu itu. Yakinlah bahwa kita memang sewaktuwaktu pasti akan menghadap kepada-Nya dan kembali kepada-Nya.

Maka, untuk meraih shalat yang khusyuk, diperlukan persiapan jasmani dan ruhani terlebih dahulu, sebagai berikut:

Pertama, setiap kali hendak shalat, persiapkan batin kita lebih dahulu bahwa kita hanyalah sebutir debu yang akan bermunajat dan mengadukan keadaan diri kita hari itu kepada Allah Yang Maha Esa. La ilaaha illallah—tidak ada "tuhan-tuhan" lain apa pun yang perlu ditakuti—apa pun itu wujudnya, kecuali takut, taat, takwa hanya kepada Allah. Ingatlah, senantiasa ada Allah di dekat kita, meliputi kita. Merasa takut pada hal-hal lain—selain takut kepada Allah—bisa dikatagorikan syirik.

Kedua, lakukan gerakan-gerakan shalat dari posisi yang satu ke posisi berikutnya dengan perlahan, halus, dan lembut. Jangan cepat-cepat, tergesa-gesa. Dan sempurnakan setiap posisi dalam shalat kita lebih dahulu sebelum mulai membaca bacaan-bacaan shalat.

Ketiga, bacalah bacaan shalat itu ayat per ayat dengan tartil, perlahan—simak tiap kata yang keluar dari bibir kita — dan jeda sejenak (tumakninah) di akhir tiap ayat untuk menghayati maknanya.

Keempat, libatkan seluruh perasaan kita sampai terasa merinding di seluruh pori-pori kulit kita--bahwa kita bukan siapa-siapa—hanya sebutir debu yang sedang mengadukan seluruh persoalan hidupnya, kelemahan-kelemahannya dan ketakutanketakutannya, dalam dialog yang panjang dengan Yang Maha Pencipta alam semesta ini: Allah yang Maha Esa.

Kelima, di akhir shalat sebelum beranjak dari sajadah, renungkanlah bahwa kita diturunkan di bumi oleh Allah adalah untuk menebarkan rahmatan lil alamin sebagai misi kita. Perbanyak zikir, istighfar, dan doa-doa kita—untuk menghapus kesalahan dan dosadosa harian kita di hari itu. Dan yakinlah, belum tuntas doa-doa yang kita ucapkan, Allah sudah mengabulkan doa-doa itu dengan cara-Nya—untuk kebaikan kita di dunia dan pertemuan kita di akhirat nanti.

"Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya (shalat) itu memang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS al- Baqarah [2]: 45-46).n