Rabu , 06 Desember 2017, 14:10 WIB

Paham Agama

Red: Agung Sasongko
ANTARA FOTO/Jojon
Mengingat Allah Ilustrasi.
Mengingat Allah Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --

Dalam sebuah hadis dari Muawiyah bin Abi Suf yan RA bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, "Barang siapa yang diinginkan kebaikan oleh Allah, maka Allah pahamkan dia dengan agama." (HR al-Bukhari).

Paham dengan agama yang dimaksud dalam hadis terse but tentu tidak instan atau asal jadi. Supaya bisa memahami agama harus melalui proses belajar atau menuntut ilmu. Sebab itu, Rasulullah SAW bersabda, "Menuntut ilmu (agama) merupakan kewajiban bagi setiap Muslim." (HR Muslim).

Allah SWT berfirman, "Bacalah, dengan menyebut nama Rabb-mu yang telah menciptakan." (QS al-'Alaq: 1). Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari berkata, "Mafhum hadis bahwa orang yang tidak ber-tafakkuh fiddin, yakni tidak belajar kaidahkaidah Islam dan cabang-cabangnya maka sungguh ia diharamkan kebaikan."

Maka, apabila Allah SWT menginginkan kebaikan pada seorang hamba, Allah beri ia kemauan untuk mempelajari, mendalami, dan memahami agama Islam. Bukan sekadar itu, Allah anugerahkan ia juga berupa kecerdasan dan kemudahan dalam mempelajarinya. Sehingga, ia benar-benar paham.

Rasulullah SAW tidak menyebut harta, pangkat, atau kedudukan sebagai tanda kebaikan yang diberikan oleh Allah SWT kepada seorang hamba, melainkan paham terhadap aga ma. Karena di tangan orang-orang yang paham agama segala apa yang dia miliki seperti harta, pangkat, dan kedudukan serta kehidupan yang dia jalani akan bermakna dan mendatangkan kebaikan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Sebaliknya, di tangan orang yang tidak memahami agama, maka harta, pangkat, dan kedudukan yang dimilikinya tidak memberi manfaat apa pun untuk kebaikan dirinya, terutama untuk akhiratnya. Harta, pangkat, dan kedudukan yang seharusnya menjadi ladang kebaikan untuk dirinya, justru membuatnya semakin jauh dari Allah, sibuk dengan dunia, dan menjadi fitnah (keburukan) bagi dirinya.

Namun, betapa banyak pula Muslim yang telah memahami Islam, memahami adanya perintah dan larangan dalam Islam, tapi perbuatan dan akhlaknya justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Betapa banyak umat Islam yang memahami bahwa shalat itu suatu kewajiban, tapi hanya sedikit dari umat Islam yang mau melaksanakannya.

Di sini kita menyadari bahwa kepahaman seseorang terha dap Islam sebagai tanda Allah menginginkan kebaikan pada dirinya, harus diikuti dengan amal saleh dan akhlak mulia. Islam sebagai rahmat bagi semesta alam tidak akan tampak apabila sebatas pemahaman, tapi harus terimplementasi dalam tindakan dan perbuatan.

Rasulullah SAW bersabda, "Yang paling sempurna keimanan seorang mukmin adalah yang paling baik akhlaknya." (HR at-Tarmidzi). Dalam kitab Madaarij as Saalikin, Ibnul Qayyim berkata, "Agama ini semuanya akhlak. Siapa yang mengunggulimu dalam akhlak, maka ia telah mengunggulimu dalam agama." Karena muara dari ilmu, akidah, dan ibadah dalam Islam sebenarnya adalah akhlak. Wallahu a'lam.