Selasa , 05 Desember 2017, 15:35 WIB

Merasa Cukup adalah Kekayaan

Red: Agung Sasongko
Blogspot.com
Kekayaan (ilustrasi)
Kekayaan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Supriyadi

Hawa nafsu merupakan suatu kewajaran karena manusia tercipta dengan membawanya. Akan tetapi, jika hawa nafsu tidak dikendalikan dengan baik maka ia akan berbalik mengendalikan manusia. Hawa nafsu sering sekali disamakan dengan keinginan atau hasrat. Sebagai manusia, kita pun mempunyai aneka keinginan, terutama keinginan yang bersifat duniawi.

Kita ingin hidup dengan berlimpah harta. Kita ingin mempunyai pasangan yang cantik. Kita ingin mempunyai mobil mewah keluaran terbaru. Kita ingin ini dan itu, semuanya dan semuanya. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini yang bersifat duniawi tersebut. Jika kita tidak mengendalikan keinginan tersebut maka keinginan itulah yang akan mengendalikan kita. Itulah maksud dari hawa nafsu.

Jika kita tidak memperoleh apa yang kita inginkan maka kita akan menderita. Karena tidak ingin menderita, kita bisa berbuat hal yang melanggar hukum, seperti korupsi, mencuri, merampok, dan menipu. Itulah jika hidup kita dikendalikan oleh keinginan. Lain halnya jika kita yang mengendalikan keinginan. Maka, keinginan tersebut tidak akan menguasai kita. Sungguh, keinginan adalah sumber penderitaan dalam hidup jika kita tidak bisa mengendalikannya dengan baik. Seolah kita hidup di dunia ini hanya mengejar keinginan-keinginan yang tak kekal dan tak akan kita bawa mati.

Jika kita sederhanakan, keinginan tersebut merupakan kejaran untuk hidup dalam kekayaan. Keinginan kita bertujuan untuk kekayaan. Padahal, keinginan tersebut adalah sumber penderitaan. Jika kita telah hidup dalam kekayaan maka kita akan merasa miskin jika kita terus mengejar kekayaan yang lebih. Dan begitu seterusnya. Rasulullah SAW pernah mengonsepkan suatu kekayaan dengan bijak: "Kekayaan bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun, kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR Bukhari).

Merasa cukup adalah kekayaan. Jika kita merasa cukup terhadap apa yang kita miliki maka kita sudah kaya. Sederhananya, jika kita tidak menginginkan beragam keinginan maka kita sudah kaya. Hal itu membebaskan kita dari penderitaan yang diakibatkan oleh keinginankeinginan yang tidak berkesudahan.

Lantas, bagaimana cara agar kita bisa terlepas dari keinginan serta merasa cukup dengan apa adanya? Jawabannya adalah dengan mengedepankan sabar dan syukur. Sabar adalah penangkal dari segala penyakit hati, terutama keinginan-keinginan yang tak berkesudahan.

Sementara itu, syukur adalah menerima apa adanya serta merasa sudah cukup dengan apa yang telah dimiliki. Manusia yang berjiwa besar dengan menekankan sikap sabar adalah manusia yang akan menerima kabar gembira. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam QS az-Zumar ayat 10: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."

Sementara itu, manusia yang berjiwa besar dengan mengedepankan sikap syukur adalah manusia yang senantiasa bahagia karena berlimpah nikmat. Hal itu dikarenakan bahwa orang yang bersyukur akan senantiasa ditambahkan kenikmatan untuknya. Wallahu a'lam.