Selasa , 14 November 2017, 05:00 WIB

Bangun Semangat Islah

Red: Agung Sasongko
Republika/Musiron
Umat muslim mendengarkan ceramah di Masjid komplek Islamic Center Mataram, Lombok, NTB. (ilustrasi)
Umat muslim mendengarkan ceramah di Masjid komplek Islamic Center Mataram, Lombok, NTB. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Oleh: Ahmad Rifai

Bersaudara dalam Islam tidak sebatas pada persaudaraan nasab saja. Sesama hakikatnya bersaudara. Jika terjadi perselisihan di antara mereka, umat Islam yang lain diperintahkan mengislahkannya. Islah berasal dari kata ashlaha yang berarti mem perbaiki. Dalam konteks berukhuwah, islah bermakna upaya mendamaikan hubungan dua pihak Muslim yang sedang bertikai.

Perintah islah disebutkan dalam surah al-Hujurat. Allah berfirman yang artinya, "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (al-Hujurat: 10).

Karena itu, mengislahkan sesama Muslim yang bertikai sudah menjadi bagian penting ajaran Islam. Bukan saja karena ia merupakan kewajiban, mengislahkan sesama Muslim juga termasuk sarana untuk mendapatkan rahmat Allah dan meraih keuntungan ukhrawi yang berlipat ganda.

Dalam kehidupan bermasyarakat, mengislahkan sesama Muslim faktor utama terbentuknya masyarakat yang damai. Masyarakat yang jauh dari kon flik dan selalu mampu menam pilkan keindahan Islam. Keindahan itu tidak hanya pada tataran teori, tetapi juga terefleksi dalam perilaku sehari-hari. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ber sabda, ''Sesungguhnya Mukmin yang satu dengan yang lainnya ibarat sebuah bangunan, mereka saling menguatkan satu sama lain.'' (HR Bukhari).

Tak mengherankan jika Rasulullah pun me naruh perhatian besar dalam urus an mengislahkan sesama. Beliau ber usaha menanamkan syariat mulia ini dalam diri sahabatnya. Hal itu ter lihat jelas ketika beliau tiba di Madinah. Lang kah pertama yang beliau lakukan adalah mensterilkan kaum Muslimin dari be nih-benih perpecahan, keben cian, dan perselisihan. Caranya dengan meng islahkan mereka. Beliau men damaikan Aus dan Khazraj, dua suku be sar di Madinah yang kerap terlibat kon flik. Selanjutnya, beliau mempersaudara kan kaum muhajirin dengan anshar.

Dalam kesempatan lain, beliau juga melarang keras umat Islam memboikot sesamanya. Sikap seperti ini meru pakan penghambat utama ter wujudnya islah dan perdamaian di anta ra elemen masyarakat Muslim. Beliau bersabda, ''Tidak halal bagi seorang Muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Saat semangat islah sangat dibutuhkan. Pasalnya, perbedaan yang sudah menjadi sunnatullah alkauniah sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi konflik. Jika tidak segera disentuh dengan roh islah, konflik dan perpecahan sulit dielakkan. Sebaliknya, jika islah ini membudaya, perpecahan, konflik, dan perbedaan itu akan teratasi. Semoga budaya islah ini kembali tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat kita. Amin