Jumat , 13 October 2017, 10:27 WIB

Produsen Namimah

Red: Irwan Kelana
Republika/Tahta Aidilla
Warga terlibat aksi tawuran di persimpangan Jambul, Cawang, Jakarta Timur, Senin (24/4) (foto ilustrasi)
Warga terlibat aksi tawuran di persimpangan Jambul, Cawang, Jakarta Timur, Senin (24/4) (foto ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Hafidz Muftisany

Alangkah beratnya seseorang yang mendapat azab kubur. Sebelum mendapat siksa yang hakiki di akhirat kelak, sang penghuni kubur sudah mendapatkan beratnya siksa karena perbuatan buruknya di dunia.

Suatu ketika, Ibnu Abbas RA bercerita dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah SAW berjalan bersama sahabatnya. Nabi SAW melewati dua kubur lantas berkata, "Sesungguhnya kedua kubur ini sedang diazab. Mereka tidak diazab karena perkara besar, tetapi sesungguhnya perbuatan itu termasuk dosa besar. Adapun salah seorang  dari keduanya suka mengadu domba, sedangkan yang satunya lagi tidak bisa melindungi diri dari kencingnya."

Alangkah beratnya akibat adu domba. Dalam literatur Islam, adu domba memiliki asosiasi yang paling dekat dengan perbuatan namimah. Namimah sendiri memiliki beberapa pengertian.

Pertama, menghasut suasana, mengangkat pembicaraan untuk dipublikasikan dengan tujuan merusak. Kedua, membungkus pembicaraan dengan kebohongan sehingga menyebabkan kehancuran. Ketiga, tidak bisa menahan pembicaraan dan menjaganya.

Hari ini, seiring dengan mudahnya seseorang menyebarkan informasi kepada jutaan manusia lainnya, turut tumbuh gulma-gulma informasi. Informasi ini dibalut dengan bumbu kebohongan, diolesi dengan rasa permusuhan, dijejali dengan fitnah dan kerusakan. Beragam informasi yang mengadu domba ini diproduksi secara sengaja. Disebarkan dengan niat merusak. Dan bangsa ini kini sedang 'menikmati' dampaknya.

Betapa berbahaya dan buruknya perbuatan  namimah ini. Dalam kosakata bahasa Arab, namimah memiliki padanan kata dengan qattaat, qassaas, darraj, ghammaaz, hammaaz, maa-is dan mumass. Dalam Syarah Riyaduhs Shalihin semua padanan kata tersebut menunjukkan, namimah mencakup semua sifat buruk tanpa menyisakan arti kebaikan sedikit pun.

Allah SWT mengancam seseorang yang gemar menebar fitnah sebagai pekerjaan harian. "Janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina. Suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah." (QS al-Qalam [68]: 10-11).

Ancaman yang lebih keras lagi diungkapkan Rasulullah SAW dalam sabdanya, "Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba." (Muttafaq 'alaih).

Setiap hari seharusnya menjadi ajang perbaikan diri.Tak perlu menoleh ke siapapun untuk mencari siapa yang salah. Cukup telunjuk ini menunjuk ke diri sembari melihat lebih jujur.

Kita meyakini bahwa setiap gerak gerik kita, semua dalam pengawasan melekat dari Allah SWT. "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS Qaaf [50]: 18)

Era modern memungkinkan namimah tak lagi disebar lewat lisan semata. Pikiran yang dijentikkan oleh jemari dalam media sosial juga mesti kita evaluasi.

Sembari kita terus mengingatkan kepada mereka yang 'berprofesi' sebagai pengadu domba demi kepentingan duniawi. Tugas seorang dai hanyalah menyampaikan semata. Jikalau masih saja bebal, kita doakan semoga hidayah Allah segera menghampirinya.