Rabu , 20 September 2017, 18:00 WIB

Menjadi Generasi Asing

Red: Agung Sasongko
Republika/Agung Supriyanto
Hijrah
Hijrah

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Oleh: Uhah Maftuhah   

Rasulullah SAW bersabda, "Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan." (HR Bukhari). Hadis ini menjadi nasihat bagi orang beriman, bagaimana seharusnya menempatkan diri dalam kehidupan di dunia. Orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara; tidak terikat hatinya pada tempat persinggahan serta terus merindukan kembali ke kampung halaman.

Demikianlah sejatinya keadaan seorang mukmin di dunia ini. Hatinya selalu terikat dan rindu kembali ke kampung halaman yang sebenarnya, yaitu surga di akhirat kelak. Tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam AS dan istrinya, Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.

Dalam sebuah nasihat tertulis yang disampaikan oleh Imam Hasan al-Bashri RA kepada Imam Umar bin Abdul Aziz RA, beliau berkata, "Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal yang sebenarnya, dan hanyalah Adam AS diturunkan ke dunia untuk menerima hukuman akibat perbuatan dosanya..." (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Ighâtsatul Lahfân).

Dalam mengungkapkan makna tentang hal ini, Ibnu Qayyim RA berkata dalam syairnya, "Marilah (kita menuju) surga 'adn (tempat menetap) karena sesungguhnya itulah tempat tinggal kita yang pertama, yang di dalamnya terdapat kemah (yang indah). Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh (setan), maka apakah kamu melihat Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman kita dengan selamat?" (Miftâhu Dâris Sa'âdah).

Menjadi generasi asing sebagai sebuah pilihan dalam menyikapi hidup di dunia ini akan mampu menjadikan seorang mukmin tidak panjang angan-angan dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia. Imam Ibnu Rajab mengatakan, "Barang siapa yang hidup di dunia seperti orang asing maka dia tidak punya keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika kembali ke akhirat. Dia tidak berambisi dan berlomba bersama orang-orang yang mengejar kemewahan dunia karena keadaannya seperti perantau, yaitu tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya kedudukannya."

Makna inilah yang diisyaratkan 'Abdullâh bin Umar RA, "Jika kamu berada di waktu sore maka janganlah menunggu datangnya waktu pagi; dan jika kamu berada di waktu pagi maka janganlah menunggu datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum kematian menjemputmu." (HR Bukhari).

Bahkan inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya. Sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal RA, "Maknanya adalah tidak panjang anganangan, yaitu seseorang yang ketika berada di waktu pagi dia berkata: 'Aku khawatir tidak akan bisa mencapai waktu sore lagi.'"

Dunia adalah tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barang siapa mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah Azza wa Jalla dia akan sampai ke tujuan dengan selamat. Dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan. Wallahu a'lam.