Selasa , 19 September 2017, 14:25 WIB

Melestarikan Kemabruran Haji

Red: Agung Sasongko
AP Photo
Haji
Haji

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: IMAM NUR SUHARNO

Haji adalah kewajiban sekali dalam seumur hidup bagi kaum Muslimin yang mampu. Haji bertujuan melatih jiwa untuk semakin dekat dengan Sang Khalik dan merasakan kesamaan derajat di hadapan-Nya.

Akan tetapi, tidak sedikit orang yang berangkat haji dengan tujuan berbeda-beda. Ada yang tujuannya (niat) untuk berwisata, berdagang, ria dan sum'ah, dan untuk meminta-minta (HR Ibnu Jauzy). Sehingga, mereka memperoleh balasan sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya (HR Bukhari dan Muslim).

Sedangkan, bagi jamaah haji yang berhajinya atas dasar keimanan dan keikhlasan semata karena Allah, tidak berbuat rafats, tidak berbuat fusuq, dan tidak melakukan jidal selama berhaji (QS al-Baqarah [2]: 197), niscaya mereka meraih haji mabrur yang balasannya adalah surga (HR Bukhari dan Muslim).

Mabrur merupakan predikat tertinggi dalam pelaksanaan ibadah haji dan tidak mudah mencapai predikat mabrur. Jika predikat mabrur telah berhasil digapai sekalipun, tidak otomatis akan me lekat sepanjang hayat dalam diri sang haji dan hajjah.

Maka itu, sepulang dari Tanah Suci jamaah haji hendaknya selalu berupaya melestarikan kemabruran ibadah haji. Berkaitan dengan hal ini, Kementerian Agama RI telah menerbitkan buku Panduan Pelestarian Haji Mabrur yang dibagikan kepada setiap jamaah haji.

Ada tiga aspek upaya dalam pelestarian kemabruran haji. Pertama, aspek kepribadian. Setiap jamaah haji hendaknya terus berupaya melestarikan amalan yang telah dijalankan selama di Tanah Suci, seperti shalat tepat waktu, melaksanakan ibadah-ibadah sunah, berhias dengan sifat-sifat terpuji, cepat melakukan tobat apabila telanjur melakukan kesalahan, dan ibadahibadah lainnya.

Kedua, aspek ubudiyah. Setiap jamaah haji hendaknya terus berupaya untuk meningkatkan kualitas ibadah shalat, puasa sunah, tilawah Alquran, kepedulian terhadap orang lemah ekonomi melalui zakat; infak; dan sedekah, dan lain sebagainya. Ketiga, aspek sosial. Setiap jamaah haji harus membiasakan diri shalat berjamaah, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit dan meninggal dunia, kerja bakti dan tolong-menolong, serta mendamaikan orang yang berselisih.

Intinya adalah seperti yang dikatakan oleh Syekh Hassan al-Mussyath bahwa, "Tanda-tanda kemabruran ibadah haji seseorang apabila mampu membentuk kepribadiannya setelah melaksanakan ibadah haji berubah menjadi lebih baik daripada sebelumnya dan tidak lagi mengulang maksiat."

Semoga kaum Muslimin yang telah melaksanakan ibadah haji dapat meraih predikat haji mabrur dan dapat melestarikan nilai-nilai ibadah haji itu dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Wallahu a'lam.

Berita Terkait