Kamis , 14 September 2017, 13:44 WIB

Peduli Orang Miskin

Red: Agung Sasongko
Antara/Aco Ahmad
Pekerja mengangkut beras miskin (raskin) untuk didistribusikan ke warga (ilustrasi).
Pekerja mengangkut beras miskin (raskin) untuk didistribusikan ke warga (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Oleh: Fajar Kurnianto

Alkisah, pada suatu siang yang panas terik menyengat, beberapa orang suku Mudhar datang ke Madinah. Mereka tidak beralas kaki, bercelana di atas lutut hingga sebagian auratnya terlihat, berpakaian robek dan koyak di sana-sini, dengan menyandang pedang di pinggangnya.

Mereka terlihat begitu miskin, serbakekurangan, dan lesu. Mereka memang orang Muslim miskin dari suku Mudhar. Mereka datang ke Madinah ingin bertemu Nabi dan menceritakan kondisi mereka yang begitu menderita itu.

Melihat kedatangan mereka, wajah Nabi tiba-tiba memerah tanda marah. Beliau lalu masuk dalam rumah, lantas keluar lagi, kemudian menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan. Para jamaah pun datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Setelah shalat selesai, di hadapan para jamaah, Nabi berkhutbah menyampaikan alasan kemarahan sekaligus kegundahan beliau karena kedatangan orang miskin Mudhar tadi.

Setelah memuji Allah, Nabi membaca dua ayat. Pertama, "Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS an- Nisa' [4]: 1).

Kedua, "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS al-Hasyr [59]: 18)

Selanjutnya, beliau bersabda, "Bersedekahlah kalian, baik dengan dinar, dirham, pakaian, gandum, maupun kurma meskipun hanya satu biji." Tidak lama kemudian, seorang Anshar membawa bungkusan yang hampir tidak muat di genggamannya. Disusul kemudian orang-orang di belakangnya membawa banyak makanan dan pakaian hingga terkumpul sangat banyak dan bertumpuk. Melihat hal itu, wajah Nabi yang sebelumnya merah karena marah pun berubah menjadi berbinar-binar senang dan bahagia (HR Muslim).

Dalam kitab Indama Ghadibar Rasul karya Muhammad Ali Usman Mujahid dijelaskan, kegembiraan Nabi tersebut dilatarbelakangi oleh bersegeranya kaum Muslim memenuhi seruan Allah dan menaati perintah Nabi dengan menafkahkan sebagian harta mereka untuk membantu kebutuhan sesama. Hal ini menggambarkan kasih sayang antarsesama Muslim.

Melukiskan tolong-menolong dalam hal kebajikan dan takwa. Melihat pemandangan semacam itu, beliau pun begitu senang. Dari kisah ini, tergambar jelas bagaimana Islam menyuruh untuk peduli terhadap orang miskin yang membutuhkan. Sampai Nabi pun marah menyaksikan kemiskinan itu dan menyuruh orang-orang untuk peduli dengan memberikan sebagian hartanya untuk diberikan kepada mereka. Nabi adalah tipikal pemimpin yang peduli dan peka dengan kondisi masyarakatnya. Bagi beliau, kemiskinan lahir bukan karena takdir, melainkan karena orang kaya enggan bersedekah. Tanpa menunggu lama, beliau segera bergerak memobilisasi masyarakat untuk bersedekah.

Dalam kesempatan lain, Nabi bahkan mengatakan bahwa tidaklah dikatakan beriman orang yang tidur dalam kondisi kenyang, sementara tetangganya kelaparan (HR Ath-Thabrani). Dengan kata lain, kemiskinan adalah tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat. Kaum miskin harus diprioritaskan untuk ditangani dengan baik. Jika kaum Muslim bersatu dan bersama-sama peduli kaum miskin, sangat mungkin angka kemiskinan akan turun drastis. Wallahu a'lam.