Rabu , 13 September 2017, 13:42 WIB

Buah Amal

Red: Agung Sasongko
Republika
berinfak melalui kotak amal di masjid. ilustrasi
berinfak melalui kotak amal di masjid. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Imam Nawawi

Salah satu tokoh dunia yang terus dikenang sepanjang zaman adalah Lukman, seorang yang berkulit hitam, berbibir tebal, dan bertelapak kaki lebar. Ia seorang budak. Namun, dengan keterbatasan fisik dan status sosialnya itu, ia justru berhasil menembus waktu hingga era yang tak terperi. Semua itu karena hikmah yang Allah anugerahkan kepadanya (Lukman: 12). Ketika tidur dan begitu bangun, kata-katanya sarat dengan hikmah. Kata-kata bijak Lukman sungguh menyentak kesadaran banyak orang, meluluhkan, melembutkan hati yang keras, menjadikan orang rendah hati, dan sejatinya bisa menjadikan orang merunduk dan makin khusyuk di hadapan Allah.

Dalam banyak riwayat, biasanya pesan-pesan luhur itu dituturkan melalui nasihat kepada buah hatinya. Misalnya ujaran berikut, "Duhai anakku, tinggalkanlah sifat sombong, takabur, dan bangga diri, karena ketahuilah bahwa engkau akan menjadi penghuni kubur. Duhai anakku, campakkanlah sifat sombong, takabur, dan bangga diri, karena engkau akan bertetangga dengan iblis di kampungnya. Ketahuilah, barang siapa yang bertetangga dengan iblis maka ia akan jatuh ke dalam kampung kehinaan, yang tidak mati sekaligus tidak hidup."

"Duhai anakku, neraka wail bagi orang yang sombong dan takabur, karena bagaimana mungkin orang yang terbuat dari tanah itu berlaku sombong? Padahal, ia juga bakal kembali ke tanah dan dia tak tahu apakah akan kembali ke surga sehingga dia meraih kemenangan sejati, atau justru kembali ke neraka sehingga dia mengalami kerugian dan kegagalan yang sesungguhnya. Bagai mana mungkin juga orang bisa sombong dan takabur, padahal (ke la hirannya di dunia) melalui aliran air kencing sebanyak dua kali."

"Duhai anakku, bagaimana manusia bisa tidur lelap, sedang kematian terus mengintai dan mencarinya? Bagaimana ia bisa lalai, sementara kematian tak akan lalai darinya. Duhai anakku, orangorang pilihan, kekasih dan Nabi Allah pun wafat. Apakah orangorang selain mereka terus abadi dan dibiarkan hidup selamanya? Duhai anakku, janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong dan angkuh karena engkau tak akan pernah bisa menembus bumi dan tak akan pernah bisa sampai setinggi gunung.

Duhai anakku, setiap hari datang kepadamu hari yang baru, yang akan menjadi saksi bagimu di hadapan Rabb Yang Mahamulia." Kata hikmah dan bijak bestari ini tentu tidak hanya monopoli Lukman, tetapi juga Allah susupkan untuk segenap hamba-Nya yang berkomitmen dengan adab Islam karena ia adalah buah dari amal. Kata pepatah Arab, al-jaza min jinsil-amal (balasan seusai dengan amal perbuatan). Lukman sendiri berucap, "Hai saudaraku, jika engkau mau mendengarkan apa yang kukatakan padamu, tentu kamu pun bisa seperti diriku."

Tentang amalnya, ia bertutur, "Aku selalu menundukkan pandanganku (dari hal-hal yang diharamkan), lisanku selalu kujaga, makananku selalu bersih, kemaluanku selalu kupelihara, ucapanku selalu jujur, janjiku selalu kutepati, tamu-tamuku selalu kumu lia kan, tetanggaku selalu kuhormati, dan aku tidak pernah melakukan halhal yang tiada guna bagiku. Itulah amal yang mengantarkan diriku hingga sampai ke kedudukanku seperti yang kaulihat sekarang."