Ahad , 10 September 2017, 21:29 WIB

Berjuang Terus

Red: Agung Sasongko
EPA-EFE / Abir Abdullah
Pengungsi Rohingya berjalan di bawah hujan saat mereka tiba di perbatasan Bangladesh di Teknaf, Bangladesh, Sabtu (9/9).
Pengungsi Rohingya berjalan di bawah hujan saat mereka tiba di perbatasan Bangladesh di Teknaf, Bangladesh, Sabtu (9/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Ustaz Arifin Ilham

Untuk kesekian kalinya, aksi menyampaikan suara Islam kembali dilakukan. Dan akan terus dilakukan. Kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi kayak apa pun. Be nar, zikir, dakwah, dan jihad adalah hal yang berbeda. Ketig anya ada zona demarkasinya. Meski berbeda, ketiganya bersenya wa dan tidak bisa dipisahkan.

Seorang pezikir sekaligus pendakwah dan mujahid. Seorang pendakwah sejati hati dan lisannya pasti terikat dengan zikrullah. Begitu juga seorang mujahid, justru kekuatannya ada pada zikir dan dakwah.

Hari-hari ini kita semua, umat Nabi Muhammad SAW, menyak sikan, bahkan turut merasakan ketidakadilan pada saudara-sau dara kita di Rohingnya, Myanmar. Pembiaran oleh otoritas ke kua saan atas perkusi dan genosida umat Islam di daerah yang sudah kenyang berkonflik tersebut begitu telanjang.

Sehingga tidak salah urusan Rohingnya menjadi urusan bersa ma. Urusan kita, umat Islam di dunia. "Al-imaanu al ihtimaamu," iman itu perhatian, iman itu keped ulian. "Innamal mu'minuuna ihwatun...", orang beriman itu bersaudara (QS al-Hujarat: 10) "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi wali (penolong) bagi sebagian yang lain," (QS at-Taubah: 71)

"Tidaklah disebut seseorang itu beriman sampai mencintai saudara mukminnya seperti mencintai dirinya" (HR Bukhari Mus lim). Kita sudah menyaksikan kebiadaban laknatullah rezim Myanmar dan biksu Wirathu dengan para pengikutnya membantai dengan sadis, membunuh, memerkosa, membakar dengan cara sangat tidak manusiawi. Di luar nalar manusia sehat.

Bayangkan itu terjadi pada keluarga kita, orang tua kita, istri kita, atau anak-anak kita. Kalimat yang pas untuk menunjuk itu tentu, sangat biadab. Hanya keledai bodoh yang pantas marah, tetapi tidak marah, cuek masa bodoh.

Bagaimana mungkin kita bisa lelap tidur, makan nyaman me nyak sikan darah syuhada terus mengalir di Rohingya. "Duhai saudara seiman, semakin bertakwalah kepada Allah, bangunlah shalat malam, bacalah Alquran, berjamaah di masjid, rapatkan barisan, tunjukkanlah rasa peduli kita dengan doa, harta yang diinfakkan atau dengan segala apa saja yang Allah amanahkan pada kita.

Alhamdulillah, Rabu (6/9) kemarin, selesai shalat Zhuhur berja maah, kita telah melakukan aksi damai di Keduataan Besar Myan mar. Di bawah terik matahari yang bersegera ganti awan nan teduh, peserta aksi mengutuk keras dan berharap pemerintahan Aung San Suu Kyi segera menghentikan kebiadaban ini. PBB pun segera bersidang untuk menegakkan keadilan universal, menangkap, dan mengadili semua yang terlibat atas kejahatan kemanusiaan ini.

Allahumma ya Allah, selamatkan saudara-saudara kami di Rohingya Myanmar dan seluruh keadaan saudara-saudara mukmin kami... Amin. Berilah hidayah-Mu pada mereka yang menzalimi kami dan turunkanlah segera bala tentara-Mu untuk menghentikan kezaliman mereka. Amin.