Kamis , 07 September 2017, 15:39 WIB

Mensyukuri Kehidupan

Red: Agung Sasongko
Youtube
Belajar bersyukur (Ilustrasi)
Belajar bersyukur (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Asep Sapaat

Allah SWT mencintai para hamba-Nya yang pandai bersyukur. Jika manusia rajin bersyukur maka hidupnya akan merasa cukup. Sebaliknya, manusia yang mengingkari nikmat Allah, hidupnya selalu merasa kurang. Memilih sikap bersyukur atau ingkar pada nikmat Allah, itu pilihan kita. Allah SWT pun memiliki cara untuk merespons pilihan sikap kita, menambahi nikmat atau memberikan azab yang pedih (QS Ibrahim: 7).

Perjalanan saya ke Desa Mandang, Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), beberapa tahun lalu, menuntun saya menemukan makna mensyukuri kehidupan. Pak Waluyo, sosok guru dari Jawa yang memutuskan pilihan meniti masa depan di Pulau Kalimantan. Beliau lolos mengikuti seleksi program perekrutan guru untuk ditempatkan di daerah transmigrasi.

Karier Pak Waluyo relatif lancar. Tak ada persoalan berarti dalam urusan ekonomi keluarga. Karena penghasilannya sebagai seorang guru PNS lebih dari cukup untuk menafkahi keluarga. Yang kurang hanya satu, batinnya kerap merasa gundah. Apa sebabnya? Beliau sering bergaul dengan rekan sejawat yang terobsesi dengan harta dan jabatan.

Hal ini memengaruhi cara berpikirnya soal kehidupan. Beliau kerap terpancing dan mengikuti gaya hidup rekan-rekan sejawatnya. Di sisi lain, beliau relatif abai dengan amanah dan tanggung jawab sebagai guru. Datang ke sekolah kerap kasip (terlambat). Mengajar sesuka hati. Tak ada kesungguhan hati untuk memberikan pengajaran dan pendidikan terbaik bagi murid-muridnya.

Suatu ketika, sekolah Pak Waluyo mengangkat seorang guru honorer. Sosok guru honorer ini masih muda, bersahaja, gesit dalam menjalankan tugas, disiplin waktu, dan dicintai muridmuridnya.

"Allah SWT menegur saya lewat kehadiran guru honorer ini, Pak Asep. Saya tahu, guru honorer ini gajinya jauh di bawah penghasilan saya. Namun, sikap hidupnya berhasil menawan hati saya. Saya tersadar. Saya malu karena tak bisa menunjukkan kinerja yang baik seperti guru honorer itu. Selama ini saya sudah abai dengan tanggung jawab. Saya jadi takut, apakah penghasilan bulanan saya halal untuk dinikmati keluarga saya. Jangan-jangan saya sudah makan gaji buta selama ini," kata Pak Waluyo.

Saya terdiam dan mencoba memahami pikiran dan perasaan Pak Waluyo. Suasana sempat hening, lalu keheningan pecah saat Pak Waluyo tersenyum dan kembali berkisah, "Alhamdulillah saya sekarang sudah berubah. Dulu, saya memang tak begini. Sekarang saya sudah sadar dengan kesalahan saya. Saya sekarang lebih giat menunaikan tugas demi keluarga, murid-murid saya, dan orang lain yang membutuhkan kehadiran saya. Saya ingin lebih bermanfaat untuk sesama sebagai ungkapan syukur atas nikmat Allah yang tak bisa dihitung."

Perjumpaan dengan Pak Waluyo adalah momen yang menggugah ruang kesadaran saya. Saya berkaca pada diri sendiri. Sudahkah saya menjadi manusia yang pandai bersyukur? Manusia bisa lupa bahkan tidak bersyukur saat kondisi hidupnya mapan. Apalagi jika hidupnya berada di titik nadir. Syukuri apa pun yang kita miliki saat ini. Wallahu a'lam bishawab.