Sabtu , 05 August 2017, 22:15 WIB

Pelajaran Berharga

Red: Agung Sasongko
Republika/Rakhmawaty La'lang
Aksi untuk memperingati Hari Anak. (Ilustrasi)
Aksi untuk memperingati Hari Anak. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Hasan Basti Tanjung

Sungguh, pilu rasanya hati ketika menonton video penganiaya an seorang ibu terhadap anaknya di Bali beberapa hari lalu. Anak kecil itu dibentak, dipukul, dicubit, hingga disiram cairan pembersih kamar mandi. Tidak kuat menahan air mata mendengar tangisan si kecil bernama Baby J itu. Dia anak yang tidak beruntung, karena menjadi korban kekerasan ibu yang melahirnya.

Setiap peristiwa selalu terselip hikmah. Kejadian di atas memberi empat pelajaran berharga, yakni: Pertama, pentingnya fondasi agama dalam keluarga. Rumah tangga mesti berdiri di atas fondasi iman kepada Allah SWT dan Nabi SAW (HR At-Tirmidzi). Jika dilandasi kepentingan pragmatis, keluarga akan mudah rapuh.

Namun, jika dibangun di atas fondasi agama, ia akan tumbuh kuat dan kokoh, ibarat bahtera yang berlayar di tengah samudera walau dihantam badai dan ombak. Patutlah kita belajar pada keluarga Nabi Ibrahim AS dan Imran (QS 3:33).

Kedua, keharmonisan suami dan istri. Seorang calon suami hen daknya memilih istri yang sepadan dan beragama, bukan kare na harta, keturunan, dan kecantikan (HR Bukhari). Istri yang ber aga ma akan menjadi ibu yang baik bagi anaknya. Pernikahan itu unt uk membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah (QS 30:21). Suami istri harus menjaga lima resep keharmonisan; saling mengenal (ta'aruf), saling memahami (tafaahum), saling menolong (ta'awun), saling melindungi (takaaful), saling menyayangi (tara ahum).

Ketiga, kemiskinan yang berlanjut. Orang tua jangan mening galkan keturunan yang lemah (QS.4:9). Allah SWT tidak menak dir kan manusia miskin, tetapi memberi kekayaan dan kecukupan (QS 53:48). Dengan menikah, seseorang akan ditolong Allah (HR At-Tir midzi) dan dibuka pintu rezekinya (QS 24:32). Jika belum berkecukupan, boleh jadi suami belum maksimal mencari nafkah atau istri tidak pandai mengelola rumah tangga. Tidak sedikit keluarga runtuh akibat kemiskinan dan kadang berujung kematian.

Keempat, kerapuhan ikatan sosial. Seorang Muslim bukan hanya saleh ritual, melainkan juga sosial. Kesalehan sosial itu tampak pada kemanfaatan bagi orang lain (HR Bukhari). Nabi SAW berpesan agar jangan tidur enak saat tetangga kelaparan. Kepedulian melintasi sekat batas agama dan wilayah sebagai wujud rahmat bagi semesta (QS 21:107). Sejatinya, sesama Muslim ibarat bangunan dan silaturahim dengan tetangga harus dijaga agar ikatan sosial semakin erat.

Ketika seorang anak berdoa, "Ya Allah, ampunilah dosaku dan kedua orang tuaku, kasihani mereka sebagaimana mereka mengasihiku semasa kecil." (QS 17:24), bisa bermakna sebaliknya, yakni agar Allah menghukum orang tua yang tidak menyayanginya. "Siapa yang tak menyayangi, maka ia pun tak disayangi." (HR Bukhari). Allahu a'lam bish-shawab.

Berita Terkait