Ahad , 02 July 2017, 18:40 WIB

Jadilah Pohon Kurma

Red: Agung Sasongko
Antara
Pohon kurma
Pohon kurma

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung

 

Dipenuhi rasa syukur ke hadirat Allah SWT karena umat Islam telah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan Ramadhan selama sebulan. Kegem biraan pun begitu tampak di raut wajah setiap orang saat menuju masjid atau lapangan menunaikan shalat Idul Fitri 1438 H pada hari Ahad yang lalu.

Rasanya, hati mudah terenyuh oleh bacaan imam yang merdu dan doa sang khatib yang menyentuh kalbu. Doa itu berisikan harapan agar dapat kembali merasakan Ramadhan pada tahun depan, meminta ampunan Allah, dan agar Allah melimpahkan rezeki, kesehatan, serta kekuatan.

Sejatinya, Ramadhan sebagai madrasah, bukan mela hirkan manusia berkarakter pohon berbuah musiman, tetapi mencetak manusia laksana pohon kurma atau Muttaqiin (QS.2:183). Dalam Alquran ditemukan 12 ayat yang menjelaskan tentang kurma dengan berbagai keunikannya (QS 2:266, 19:23, 20:71).

Syekh Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tafsir Jaami'ul Bayaan mengatakan, pohon yang baik sebagai perum pama an seorang mukmin adalah pohon kurma (QS 14:24-25). Adakah setelah mengikuti Diklat Ramadahan, kita berka rakter pohon kurma? Hal itu akan terjawab dengan berka ca pada empat karakteristik pohon kurma, yakni:

Pertama, tumbuh di tempat yang baik. Pohon kurma tidak tumbuh di sembarang tempat, apalagi dipenuhi sampah dan limbah yang kotor. Begitu pula seorang mukmin, ia tumbuh dan berkembang di tempat dan lingkungan yang baik, yakni keluarga beriman, berilmu, beramal, dan beradab. Mereka tidak suka berada, bahkan menjauhi tempat yang merusak agamanya, sehingga tetap terjaga dari kemaksiatan.

Kedua, berbuah di sepanjang musim. Pohon kurma ber akar kuat, batangnya menjulang tinggi, dan berbuah tia da henti dengan mayang yang bersusun indah (QS 50:10). Ka pan pun orang datang, ia selalu tersedia dengan jenis yang beragam. Begitulah seorang mukmin. Selain akidah dan syariat yang teguh, seorang mukmin juga beradab (akhlak karimah) dan senang menginspirasi orang untuk maju.

Ketiga, bergizi dan tak mudah busuk. Buah kurma mengandung khasiat yang tinggi bagi kesehatan dan rasanya lezat menyegarkan. Nabi SAW selalu berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) atau tamar (kurma kering). Selain bergizi, makanan tersebut bertahan lama. Begitulah seorang mukmin, hendaknya memiliki jati diri dan kemanfaatan abadi. Pribadi yang tak mudah rapuh dan istiqamah di jalan kebaikan.

Keempat, tak ada yang terbuang. Semua bagian pohon kur ma, mulai dari akar hingga pelepah, berguna bagi kehi dupan manusia dan hewan. Misalkan, batangnya menjadi bahan bangunan. Begitulah seorang mukmin, semua kapa sitas dirinya berdaya guna. Pribadi yang selalu berjuang un tuk menebar kebajikan, kapan pun dan di mana pun ia ber ada (HR Bukhari).