Jumat , 30 Juni 2017, 08:32 WIB

Setetes Najis dan Soal Lain yang tak Sepele

Red: Muhammad Subarkah
Republika/Prayogi
 Peserta Aksi super damai 212 mengambil air wudhu sebelum melaksanakan sholat Jumat di Kawasan Silang Monas, Jakarta, Jumat,(2/12)
Peserta Aksi super damai 212 mengambil air wudhu sebelum melaksanakan sholat Jumat di Kawasan Silang Monas, Jakarta, Jumat,(2/12)

“Mas, itu bisa dibersihkan dengan tujuh kali usapan tanah. Buat saya ada yang lebih merisaukan. Kita tak suka karena ada yang pelihara anjing di rumah.

"Sulit mana dengan bersihkan najis di hati kita?” Kata Jay Teroris diakhiri pertanyaan. Jleeeb. Kenaaa gue! Padahal saya cuma berkata normatif. Air liur anjing najis. Duuuh peka memang perlu diasah. “Setuju, Bro!

Najis itu tak melulu berkait dengan anjing atau babi. Diri kita mengandung juga. Apa iya? Lha iya lah. Itu yang keluar dari tubuh bawah. Saat di dalam tak soal. Saat keluar, masalah jadi serius.

Meski cuma buang air kecil, sudahkah kita waspadai tetesan najisnya? Yang tak peduli, itu sebagian muslim. Sekadar ber-Islam. Yang peduli, mukmin namanya. Istiqomah waspadai diri. Muslim anggap sepele. Mukmin was-was setengah mati.

Mungkin saat tak shalat tak apa. Waktu shalat? Bisa tertolak karena setitik najis niiih! Ketika berpergian saya pontang panting tak ingin terciprat najis. Kadang jadi senewen andai waktu nyawa lepas ada tetesan najis. Husnul atau su’ul khatimah?

Diri saya mencari-cari jawab. Nah itu pentingnya mandi janazah. Bathin saya berbisik. Jasad dibersihkan dengan air. Mayat disucikan air wudhu. Semoga jadi husnul khatimah.

Soalnya berapa banyak kaum pria beragama Islam yang kencing berdiri? Usai hajat, kita buka kran bersih-bersih. Dari basuhan itu, yakinkah tak terciprat najis? Hati-hatilah dengan sikap kita tak yang peduli. Ada pertanggungjawaban.

Lantas dalam sehari, berapa kali kita pipis jongkok? Mungkin banyak juga yang tak berhitung. Namun bagi mukmin, ini soal serius.

Saya takjub pada Singapura. Pantau ketat umat Islam. Namun airportnya siapkan juga toilet jongkok. Di kita bahkan ada masjid yang tak siapkan yang jongkok. Bicara jongkok bukankah itu sunah Rasulullah SAW. Bicara tak terciprat najis itu wajib. Ketika ada masjid tak siapkan, apa hendak dikata.

Pilih ayam goreng atau sate kambing, itu cuma selera. Pilih pipis berdiri atau jongkok, ada konsekuensi. Dan terkena atau terhindar cipratan najis, soalnya sampai akherat. Najis itu SOAL. Tapi ayo aaaah. Jangan sampai jadi SIAL karena kita anggap sepele.