Jumat , 16 June 2017, 12:57 WIB

Menjadi Umat Terbaik

Red: Agung Sasongko
Umat Islam
Umat Islam

Oleh: Yunahar Ilyas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Secara teologis, kita semua yakin bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik karena Allah SWT menyebutkannya dalam surah Ali Imran ayat 110. Tetapi dalam realitasnya, apakah umat Islam sekarang ini pantas disebut sebagai umat yang terbaik?

Kalau yang menjadi ukurannya adalah peradaban materiil, tentu sulit untuk menempatkan umat Islam se ba gai yang terbaik. Ditinjau dari aspek ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan teknologi, dengan mudah terlihat bahwa umat Islam bukanlah yang terbaik sekarang ini. Negara-negara yang masuk kategori dunia Islam saat ini semuanya masuk dalam kategori negara-negara Timur dan Selatan, ti dak ada satu pun yang dapat dima suk kan dalam kategori Barat dan Utara.

Negara-negara yang maju dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi dikelompokkan kepada Barat walaupun secara demografis berada di Timur. Sedangkan negara-negara yang tidak maju atau terbelakang dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi disebut Timur.

Sedangkan, negara-negara yang maju dari segi ekonomi dimasukkan dalam kategori Utara dan yang tidak maju, yang berkembang atau miskin disebut Selatan. Dari seluruh negaranegara Islam tidak ada satu pun yang masuk kategori Barat ataupun Utara. Begitu juga dari aspek politik, umat Islam belum lagi memegang peran, terutama dalam menentukan arah politik global. Ringkasnya kita tidak perlu menguraikan lebih lanjut bahwa dari segi peradaban materiil, realitas nya umat Islam bukanlah yang terbaik.

Lalu, dari aspek apa umat Islam masih yang terbaik? Dapat kita katakan umat Islam terbaik dari segi aspek nilai-nilai yang diajarkan oleh Alquran dan as-sunah. Ajaran Islam bersifat universal serta komprehensif mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam diturunkan Allah SWT untuk menjaga lima daruri, yakni kebebasan beragama, keselamatan jiwa, kebe basan berpikir, kesucian keluarga, dan kebebasan memiliki harta.

Setiap manusia dilahirkan dengan fitrah bertuhan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi SAW, "Kulu mauludin yuladu fitrah." Tetapi, fitrah itu tidak bisa dihilangkan sehingga tidak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa mengakui adanya Tuhan. Jika seseorang menentang fitrahnya, dia akan mengalami kegelisahan dan kekeringan spiritual. Gejala di banyak negara maju secara peradaban materiil, banyak orang mencoba menentang fitrah ini secara bertahap, mulai dari meragukan hingga menolak adanya Tuhan.

Hidup terasa hampa, kosong, dan tidak tentu arah walaupun dari harta banyak dan ilmu pengetahuan maju. Puncaknya mereka mencoba kembali mencari Tuhan. Dalam hal ini, umat Islam masih yang terbaik karena ajaran tauhid, yang menjadi pegangan dan landasan hidup mereka. Umat Islam sekalipun tidak taat menjalankan agamanya, tetapi masih tetap bertuhan dan ini menjadi aspek yang paling penting. Termasuk di Indonesia, tempat asas pertama dari berbangsa dan bernegara adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Inilah yang menjadi inti dari khaira ummah.