Kamis , 08 June 2017, 01:00 WIB

Puasa dan Tanggung Jawab Pendidikan Anak Dalam Keluarga

Red: Agus Yulianto
Republika/Amin Madani
Ilustrasi Anak berbuka puasa bersama
Ilustrasi Anak berbuka puasa bersama

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Dudung Abdul Rohman *)
 
Puasa merupakan momen kebersamaan di dalam keluarga. Yang biasanya anggota keluarga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, maka selama bulan puasa mereka banyak berkumpul di dalam rumah. Mereka bisa berbuka puasa bersama, sahur, dan shalat tarawih berjamaah. Jadi dengan puasa dapat menyatukan kebersamaan dalam keluarga.
   
Bukan sebatas itu, ternyata dengan puasa pun bisa menyadarkan setiap orangtua tentang tanggung jawab pendidikan anak dalam keluarga. Selama ini seakan terbentuk persepsi, bahwa pendidikan anak itu sudah cukup ditangani oleh lembaga pendidikan. Orangtua sudah mengalihkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pihak sekolah ataupun madrasah dengan pembayaran mahal atau alakadarnya.

Dengan begitu, sepertinya lepas tanggung jawab orangtua dalam mendidik anaknya. Padahal, tanggung jawab pendidikan anak tertumpu pada orangtua di dalam keluarga. Sedangkan pendidikan anak yang dilakukan oleh lembaga pendidikan hanya membantu meringankan beban orangtua dalam mendidik anak.

Jadi, dengan momen kebersamaan  dalam keluarga selama berpuasa, orangtua diingatkan kembali akan tanggung jawabnya yang demikian besar dalam mendidik anak-anaknya. Jangan sampai orangtua lalai terhadap tanggung jawab ini, yang mengakibatkan hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang memadai di dalam keluarga menjadi terabaikan. Sehingga anak-anak menjadi terlantar, karena kurang perhatian, kasing sayang, pengawasan, dan pendidikan yang cukup dari orangtuanya.

Karena itu, dalam Alquran Allah SWT mengingatkan kepada kita, bahwa orangtua harus dapat menjaga anggota keluarganya dari ancaman siksaan neraka. Artinya, jangan sampai kita selaku orangtua menelantarkan anak-anak, sehingga mereka terjerumus pada perbuatan-perbuatan nista seperti pergaulan bebas, tawuran, dan terjerat narkoba. Kalau sudah demikian, yang repot tetap orangtuanya juga.

Allah SWT berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim [66]:6).

Menurut Abdullah Nashih Ulwan (2007) dalam bukunya Tarbiyatul Aulad Fil Islam (Pendidikan Anak Dalam Islam), bahwa di antara faktor penyebab kenakalan anak, rusaknya akhlak dan hilangnya kepribadian mereka, karena keteledoran orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Tentunya ini menjadi bahan renungan bagi orangtua, apakah kita sudah dapat menunaikan tanggung jawab untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya? Apabila anak-anak nakal atau melakukan perbuatan yang amoral dan asosial, tentu yang harus disalahkan terlebih dahulu adalah orangtuanya, bukan anaknya. Mengapa? Karena boleh jadi hal itu disebabkan keteledoran orangtua dalam mendidik dan mengarahkan anak-anak.

Dalam sebuah hadis diungkapkan, “Seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Dan seorang wanita itu adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap apa-apa yang dipimpinnya” (HR. Bukhari-Muslim).

Di antara tanggung jawab pendidikan di dalam keluarga adalah pendidikan agama. Orangtua harus dapat mengarahkan anak-anaknya untuk dapat memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan baik. Pendidikan agama yang paling efektif dalam keluarga selain nasihat dan pengajaran, adalah keteladanan dan pembiasaan.

Sebagai orangtua harus memberikan contoh yang baik dalam pengamalan agama. Juga mesti melatih mereka supaya terbiasa menjalankan perintah-perintah agama dengan baik dan penuh tanggung jawab. Dalam hadis dikatakan, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk mentaati perintah-perintah (Allah) dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebab hal itu akan menjaga mereka dari api neraka” (HR. Ibnu Jarir).

Selama bulan Puasa kita semua didorong untuk dapat mengamalkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Selain melaksanakan puasa di siang harinya, juga kita dalam keluarga dilatih untuk bangun lebih pagi karena harus makan sahur bersama. Kita pun dilatih untuk memperbanyak membaca Alquran, melaksanakan shalat fardhu dan tarawih secara berjamaah di dalam masjid.

Selain itu tentunya kita pun dituntut untuk lebih banyak berdzikir, berdoa, dan beribadah. Karena momen bulan Puasa adalah kesempatan kita semua untuk menyucikan diri dari dosa-dosa dan lebih  memperbanyak bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Maka dalam salah satu ayat rangkaian puasa,

Allah SWT berfirman:Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah [2]:186).

Maka selama berpuasa di tengah-tengah keluarga, tentunya banyak nilai-nilai pendidikan yang dapat diperoleh, di antaranya: (1) dengan berpuasa dapat membina kepatuhan terhadap ajaran agama; (1) dengan berpuasa dapat membina kedisiplinan dalam hidup; (3) dengan berpuasa dapat membina kesabaran dalam menjalani perjalanan kehidupan; (4) dengan berpuasa dapat mendidik kita untuk memiliki jiwa sosial dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain; (5) dengan berpuasa dan beribadah selama bulan puasa dapat mengantarkan diri kita pada derajat yang paling mulia, yaitu ketakwaan yang dijamin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat.

Jadi dengan momen kebersamaan selama berpuasa dalam keluarga, mudah-mudahan dapat menyadarkan semua orangtua, bahwa betapa besar tanggung jawabnya dalam mendidik anak-anaknya supaya mereka kelak  menjadi generasi yang terbaik sebagaimana yang didambakan. Wallahu A’lam Bish-Shawaab.
 
*) Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Bandung