Sabtu , 14 October 2017, 22:27 WIB

Menuntut Ilmu karena Allah

Rep: Rahmat Fajar/A Syalaby Ichsan/ Red: Agung Sasongko
Wordpress.com
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi)
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tradisi menuntut ilmu agama di kalangan umat Islam telah berlangsung sejak zaman Rasulullah SAW. Pada masa itu kondisi kehidupan kaum Muslim dibagi menjadi dua fase. Yang pertama disebut fase Mak kah (dari 610–622 Masehi), se dang kan yang satunya lagi dinamakan fase Madinah (dari 622– 632 Masehi).

Selama fase Makkah, situasi yang dihadapi Nabi SAW dan peng ikutnya tidaklah mudah. Ba nyak sekali tantangan dan ujian yang mendera kaum Muslim generasi awal pada waktu itu. Para sahabat yang hendak belajar ilmu agama dari Rasulullah SAW pun biasanya bakal menghadapi dua risiko. Risiko yang pertama adalah diinterogasi dengan cara-cara yang kasar oleh kaum kafir Mak kah. Sementara, risiko yang lain nya adalah dieksekusi hingga ber ujung pada kematian di tangan musuh-musuh Allah.

Di antara pengikut Nabi SAW yang dieksekusi mati oleh kelompok kafir Makkah itu adalah Ya sir bin Amir dan Sumayyah binti Khayyath RA. Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang juga orang tua kandung dari sa ha bat Rasulullah yang bernama Ammar bin Yasir RA. Sebelum meninggal, Yasir dan Sumayyah sempat disiksa dengan amat kejam oleh penduduk kafir Makkah.

Yang menarik, keadaan yang sangat sulit seperti itu ternyata sama sekali tidak menyurutkan semangat para sahabat lainnya untuk terus menimba ilmu-ilmu Islam dari Nabi SAW. Bah kan, di tengah tekanan kelompok kafir Makkah yang begitu kuat terha dap umat Islam ketika itu, se orang pe muda Muslim bernama al-Ar qam bin Abil Arqam rela me wa kafkan rumahnya untuk di guna kan sebagai tempat pengajaran ilmu agama oleh Rasulul lah SAW.

Dari 40 orang alumni madrasah Nabi SAW di rumah al-Arqam itu, semuanya menjadi orang-orang yang sukses kemudian hari. Mereka dan keturunan mereka berhasil mengembangkan syiar Islam ke seluruh pen juru dunia dalam waktu sangat sing kat. Mulai dari negeri Syam, Afri ka Utara, Cina, Nusantara, hing ga sampai pula ke Eropa (Anda lusia).

"Pada zaman itu setiap orang yang mengikuti majelis ilmu Nabi SAW mampu mengubah lawan menjadi kawan. Ironisnya, hari ini tidak sedikit orang yang mengikuti majelis ilmu justru malah mengubah kawan men jadi 'lawan'. Kondisi ini tentunya harus menjadi evaluasi kita bersama sebagai kaum Muslim," ujar Us taz Adi Hidayat dalam kajian Islam yang digelar di Masjid al- Azhar Jaka Permai, Bekasi Sela tan, Jawa Barat, belum lama ini.