Jumat 05 May 2017 15:12 WIB

Warisan Terbaik

Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).
Foto: nfvf.co.za
Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).

Oleh: Iu Rusliana

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Jejak kebaikan itu akan menjadi warisan abadi, tak terputus, bahkan hingga alam kubur sekalipun. Setiap kita tentu menginginkannya, hanya saja lebih banyak yang sekadar ingin, tanpa mengupayakannya dengan sungguh-sungguh, bahkan mengabaikannya, atau merasa perlu menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya. Padahal, tak perlu waktu khusus, saat kaya raya, atau bilamana telah berpendidikan tinggi. 

Ada tiga warisan terbaik yang setiap orang pun akan mampu melaksanakannya dengan mudah; sedekah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang terus mendoakan orang tuanya. Begitulah pesan dari Rasulullah SAW, "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang terus mendoakan kedua orang tuanya," (HR at-Tirmidzi). 

Senyum saja sudah sedekah. Artinya, bersikap ramah dan membuat orang yang bersama kita nyaman adalah kebaikan abadi. Senyum hakikatnya ekspresi jiwa nyata, cermin diri yang tulus dan penuh syukur atas kehidupan yang dijalani. Tidak perlu menunggu kaya harta untuk bersedekah, bukan? Tentu saja, alangkah baiknya semakin banyak harta benda yang disedekahkan, diwakafkan, ambil secukupnya, tinggalkan sepantasnya.

Ilmu pengetahuan itu bertingkat, setiap orang memilikinya dari yang sederhana hingga yang paling rumit. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia hanya setitik saja jika dibandingkan luasnya samudra ilmu Allah SWT. Jika pun hanya bisa membaca, ajarkanlah dengan senang hati kepada yang belum bisa. Bila pun hanya bisa al-Fatihah, ajarkanlah kepada mereka yang belum benar cara membacanya, dan seterusnya. 

Tak ada alasan untuk tidak berbagi ilmu, jangan juga menunggu berstatus sebagai guru. Ketika setiap manusia mau belajar, mengajar, dan mengembangkannya, maka sesungguhnya pilar peradaban tengah ditegakkan. 

Anak saleh lahir dari pendidikan dengan kurikulum keluarga saleh. Artinya, pendidikan menjadi hal yang utama dalam kehidupan sebuah keluarga dan masyarakat. Anak saleh adalah sumber daya insani terbaik. Mereka bukan hanya bermanfaat bagi kedua orang tuanya, tapi anak bagi semua orang tua yang memperoleh manfaat kebaikan darinya.

Tiga warisan itu hakikatnya memberikan kita hikmah, antara lain, pertama, bahwa hidup ini harus seimbang, jangan berlebih-lebihan. Kehidupan dunia harus dipenuhi dalam rangka menyiapkan bekal di akhirat nanti, pun sebaliknya. Tak ada yang boleh diabaikan salah satunya, sama pentingnya, sama bernilainya. Alquran surah al-Baqarah ayat 200 mengilustrasikannya dengan doa, "Wahai Tuhan kami, berilah kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkan kami dari azab neraka."

Kedua, bangunlah kebudayaan dan wariskan peradaban terbaik bagi kemanusiaan. Ilmu bermanfaat, wakaf, dan anak saleh adalah warisan terbaik bagi kemanusiaan. Dalam makna yang lebih luas, ilmu bermanfaat itu artinya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan sebagai penopang peradaban manusia. Kemanfaatannya tak lagi dibatasi agama, tetapi menyentuh seluruh kebutuhan umat manusia. 

Berbagai amal usaha yang terus tumbuh berkembang dan meluas karena gairah bersedekah dan berwakaf. Pesantren, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai bentuk nyata kebaikan terus bertumbuh, aksi filantropi yang memuliakan. 

Ketiga, siapkan manusianya, manusia bermanfaat bagi sesama. Kepemimpinan, akhlak, aksi kemanusiaan, penguasaan ekonomi dan bisnis, dan pengembangan ilmu pengetahuannya. Sebuah isyarat bagi kita bahwa rumah adalah tempat utama, awal dari peradaban, sekolah pertama manusia dan tempat dibentuknya sumber daya insani (human capital). 

Begitu mendalamnya kandungan makna dari hadis di atas, bahwa Rasulullah SAW mendorong setiap kita sebagai individu dan keluarga menyiapkan warisan terbaik untuk peradaban dengan ilmu pengetahuan, sedekah, dan sumber daya insani. Betapa untuk kebaikan di akhirat nanti, kita harus memberikan yang terbaik di dunia ini. Wallaahu a'lam. n 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement